KopitesSide - Di era sepakbola modern dan penuh gelimang uang seperti sekarang ini, loyalitas terhadap satu
klub jadi sesuatu yang langka. Tidak banyak pemain berkelas bertahan
lama di satu klub, apalagi menghabiskan karir profesionalnya hanya di
satu klub saja. Salah seorang dari sedikit pemain itu adalah Jamie
Carragher. Pria kelahiran Bootle, Merseyside, 28 Januari 1978 ini baru
saja pensiun sebagai pemain dan sepanjang karirnya hanya memperkuat satu
klub saja, yaitu Liverpool.
Ia kerap mendapat pertanyaan,
apakah pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan Liverpool dan pindah
ke klub lain yang mungkin lebih besar dari
The Reds. Jawabannya
simpel saja, “Saya tentu tertarik bermain di klub yang lebih besar dari
Liverpool. Tapi saya tetap bertahan karena tidak ada klub yang lebih
besar dari Liverpool.” Jawaban seperti itu sepertinya kerap dipakai
beberapa pemain saat ditanyakan kenapa tetap bertahan di klub yang
sedang diperkuatnya.
Kiper Liverpool, Pepe Reina, pernah
mengatakan hal yang hampir serupa saat ditanya apakah ia bersedia
menerima kalau ada tawaran dari Barcelona yang kerap diberitakan ingin
mendapatkannya kembali. Ucapan Reina masih harus menunggu pembuktian,
tapi faktanya Liverpool adalah klub ketiga yang pernah diperkuat kiper
asal Spanyol tersebut. Sedangkan Carragher sudah membuktikan ucapannya.
Terdengar simpel dan agak bombastis, tapi itulah jawaban terbaik dari
seorang bek yang dikenal tanpa kompromi dalam setiap permainannya.
Mental Pemenang & Pantang Menyerah
Para
fans Liverpool sempat berharap sang legenda akan menunda keputusannya
untuk pensiun. Namun setelah 17 tahun bermain, tampil lebih dalam 700
laga dan 35 kali memperkuat tim nasional Inggris, pria yang akrab disapa
Carra ini sudah bertekad bulat untuk mundur dari panggung sepakbola. Ia
terakhir kali mengenakan kostum merah-merah saat laga melawan QPR pada
19 Mei lalu yang merupakan laga terakhir di musim 2012/13.
Sebagai
bek, ia memang kurang punya kecepatan maupun kemampuan untuk memberikan
umpan-umpan terukur. Hal itu membuat pemain yang sempat menjadi bek
sayap kanan ini akhirnya diplot sebagai bek sentral. Posisi tersebut
ternyata merupakan posisi terbaiknya. Carra pun selalu memberikan yang
terbaik dan tampil penuh semangat di setiap laga yang dilakoni timnya.
Ia mempunyai mental seorang pemenang dan pantang menyerah.
Yang
paling khas ia selalu berteriak lantang tiap kali mengorganisir lini
pertahanan saat lawan mendapat tendangan bebas atau tendangan sudut.
Sosoknya memang disegani kawan maupun lawan. Bahkan Sir Alex Ferguson
yang pernah menangani klub seteru Liverpool, Manchester United, termasuk
pengagum Carra. Ferguson sempat mengatakan kalau Carra adalah tipe
pemain yang disukainya dan salah satu pemain terbaik yang pernah
dimiliki Liverpool.
Rencana pensiun Carra sepertinya memang harus
terjadi di musim 2012/13 karena ia tampil kembali pada performa
terbaiknya. Kesalahan yang kerap dilakukan pemain utama seperti Martin
Skrtel dan Daniel Agger membuat pelatih Brendan Rodgers kembali memasang
Carra sebagai pemain utama. Keputusan itu terbukti tepat, karena sang
wakil kapten mampu tampil solid dan konsisten meski terkadang kalah
dalam hal kecepatan.
Tekad Carra untuk pensiun pun semakin
bulat, karena ia tak ingin menjadi pemain terlupakan, tampil buruk,
terpinggirkan dan akhirnya pensiun karena sudah sulit mendapatkan
kesempatan bermain. Ia ingin dikenang sebagai pemain yang tetap dalam
permainan terbaik meski sedang menjalani musim terakhirnya. Banyak yang
mengatakan, terutama para fans, kalau Gerrard adalah jantungnya
Liverpool. Anggapan itu mungkin benar, tapi Carra pun pantas disebut
sebagai jiwanya Liverpool. Julukan itu diperoleh bukan hanya karena
sepanjang karirnya di bermain untuk Liverpool, tapi pantas dijadikan
panutan bagi pemain yang lebih muda maupun pemain lainnya.
Ia
bermain seperti mempertahankan harga diri klubnya maupun dirinya
sendiri. Contoh jelasnya adalah panggung final Liga Champions 2005 saat
menghadapi AC Milan. Di tanggal 25 Mei di Istanbul, akan dikenang
sebagai malam paling bersejarah karena membuat
The Reds menjadi
klub Inggris tersukses di Eropa sampai saat ini dengan merebut trofi
Liga Champions untuk kelima kalinya. Masih teringat jelas saat Carra
bertarung sepenuh hati untuk mempertahankan daerahnya dan mencegah Milan
mencetak gol kemenangan saat skor sedang imbang 3-3. Kerja kerasnya
terbayar dan Gerrard mengangkat piala kemenangan di malam itu.
Antara Timnas & Klub
Momen itu merupakan salah satu masa-masa keemasan pemain bernomor punggung 23 tersebut.
Bukan
hanya lugas dalam bermain, ia juga vokal dalam menghadapi berita miring
mengenai dirinya. Salah satunya terjadi saat ia memutuskan untuk
pensiun dari timnas Inggris pada 2007. Keputusan itu mengundang kritik
tajam dari seorang pemandu program
TalkSport, Adrian Durham di
sebuah stasiun televisi di Inggris. Carra tidak menyukai klaim dari
Durham dan langsung menghubungi stasiun televisi tersebut untuk
berdebart mengenai keputusannya mundur dari timnas Inggris.
Carra
terpaksa mengambil langkah mundur karena kerap tidak ditempatkan di
posisi bek sentral. Ia pun jarang menjadi pilihan utama dan beberapa
kali diplot sebagai gelandang bertahan, seperti pernah dilakoninya di
Piala Dunia 2006 saat Inggris dilatih Sven-Goran Eriksson. Karena itu,
Carra tidak menutup pintu sepenuhnya dan menyambut tawaran Fabio Capello
untuk masuk skuat Inggris menghadapi Piala Dunia 2010 di Afrika
Selatan. Total, ia bermain 38 kali untuk Inggris dari 1999 sampai 2010
dan masuk skuat di Piala Eropa 2004, Piala Dunia 2006 & 2010.
Carra
kembali memutuskan untuk pensiun usai Piala Dunia 2010. Hal itu
tentunya disambut positif oleh Liverpool dan membuat rekor bermainnya
semakin bertambah. Carra menempati peringkat kedua di bawah Ian
Callaghan sebagai pemain yang paling sering memperkuat Liverpool. Total,
ia bermain dalam 508 laga dan mencetak empat gol di semua kompetisi
sejak 1996 sampai 2013. Sedangkan Callaghan tampil dalam 640 laga di
tahun 1960-1978. Bedanya, Callaghan sempat berpindah-pindah klub setelah
hengkang dari Liverpool sebelum akhirnya pensiun pada 1982 sedangkan
Carra tetap di Anfield sampai akhir karirnya.
Team of Carragher
Satu
hal yang mungkin disesalinya adalah tidak sempat merasakan gelar Liga
Primer. Namun hampir semua gelar di tingkat klub sudah pernah
dirasakannya, termasuk Piala FA, Piala Liga, Piala UEFA dan Liga
Champions. Kenangan tentang Carra tak akan mudah terhapus bukan hanya
bagi fans Liverpool tapi juga seluruh penduduk kota pelabuhan tersebut.
Sebagian besar anak-anak yang bermain di taman di kota Liverpool saat
ini mungkin mengimpikan bisa menjadi pemain hebat seperti Steven Gerrard
atau Luis Suarez.
Namun Carra adalah tipe pemain sejati
kebanggaan Liverpool karena mencerminkan atmosfer kota mereka: Pemain
pekerja keras yang tumbuh dari akademi Liverpool dan mewujudkan mimpinya
menjadi pemain besar. Ia adalah Carra, yang berjalan sendiri keluar
lapangan saat mengalami patah kaki pada sebuah laga di 2003 dan ia orang
yang menjual foto pernikahannya pada laman pendukung Liverpool hanya
seharga 1 pounds.
Rafael Benitez pernah mengatakan pada media
kalau Carra adalah tipe pemain idealnya dan bahkan mengimpikan punya tim
yang semua pemainnya adalah Carra. Komentar Benitez membuat
The Kopites membuat lagu khusus untuk Carra, yaitu lagu Yellow Submarine milik The Beatles yang bagian refrainnya diplesetkan menjadi: "
We all dreams a team of Carragher/team of Carragher/team of Carragher”.
Well,
para fans dan Benitez boleh saja mengimpikan punya banyak pemain
seperti Carra, tapi tentu saja hanya ada satu Jamie Carragher. Ia
seorang legenda baru dan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki
Liverpool.
Koleksi Gelar:
Piala FA (2): 2001, 2006
Piala Liga (3): 2001, 2003, 2012
FA Youth Cup(1): 1996
FA Community Shield (2): 2001, 2006
Liga Champions UEFA (1): 2005
Piala UEFA: 2001
Piala Super UEFA (2): 2001, 2005
PFA Team of the Year (1): 2006
Liverpool Player of the Year Award (3): 1999, 2005, 2007
sumber : goal.com