Tampilkan postingan dengan label Profil legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil legenda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2013

Ronnie Moran Sang Pengabdi Terlama Di Liverpool

Kopitesside-ID - Tepat 22 November 1952 silam, Ronnie Moran melakukan debutnya bersama Liverpool. Mereka menghadapi Derby County dalam partai tandang.
Moran sendiri merupakan pria yang mengabdi kepada Liverpool dengan waktu terlama, baik sebagai pemain, fisioterapis, caretaker serta manajer, yakni selama 46 tahun. Itu pun belum termasuk saat dia bergabung dengan The Reds sebagai pemain amatir pada 1949.
Sayang, debutnya sebagai bek tengah tidak berjalan mulus. Liverpool yang saat itu ditangani Don Welsh harus kalah dengan skor tipis 2-3.
Gol yang diciptakan Billy Liddell dan Jack Smith ternyata tak cukup untuk mencuri poin sempurna dari Derby County. Padahal, sang lawan berada di peringkat terbawah Divisi I. Berbeda dengan Liverpool yang berada di posisi ke-8.
Sejak debut tersebut, Moran hanya tampil 13 kali hingga musim selanjutnya, di mana Liverpool terdegradasi ke Divisi II.
Namun, itu tak membuat Moran pindah ke lain hati. Beberapa musim selanjutnya, dia justru menjabat sebagai kapten, termasuk saat manajer legendaris Bill Shankly pertama kali tiba di Anfield. Moran baru memutuskan untuk undur diri dari Liverpool pada 1998.

Liverpool XI Terbaik Sepanjang Masa

Kopitesside-ID - Memilih 11 pemain terbaik Liverpool sepanjang masa bukanlah perkara gampang. Dengan banyaknya pemain bagus yang kemampuannya mendekati pemain lainnya, tentu pemain yang terpilih haruslah mereka yang beda dari yang lain.
Apakah Sami Hyypia lebih baik daripada Jamie Carragher di posisi bek tengah? Apakah Steven Gerrard masuk dalam daftar? Di mana Billy Liddell, pemain yang tidak pernah memainkan sepakbola modern, layakkah dia bersanding dengan pemain hebat lainnya? Kalau Anda diminta memilih satu penjaga gawang berdasarkan raihan gelar yang diraihnya, akankah Anda memilih Pepe Reina atau Ray Clemence?


Ray Clemence – Penjaga Gawang
Tak ada yang meragukan kehebatan Bruce Grobbleaar dan Pepe Reina dalam mengawal gawang Liverpool. Namun kehebatan keduanya masih kalah dibanding Ray Clemence. Nilai plus Clemence lainnya adalah dia lebih banyak merasakan juara bersama The Reds.
Selama 14 tahun berkarier di Anfield dari 1967 hingga 1981, Clemence membantu timnya meraih lima trofi Charity Shields, lima Divisi Utama, satu Piala Liga, satu Piala FA, satu Liga Super Eropa, tiga Liga Champions, dua Piala UEFA dan satu Piala Super Eropa.
Raihan trofi Grobbleaar bersama Liverpool tak beda jauh dengan Clemence. Bedanya, dia hanya satu kali memenangi Liga Champions, sedangkan Clemence tiga. Sementara Reina belum sekalipun memenangi trofi kompetisi Eropa.
Dalam 665 penampilan untuk Liverpool, Clemence mencatat 335 clean sheets. Prestasi gemilangnya dalam mengawal gawang The Reds terukir di musim 1978/79, di mana dia hanya kebobolan 16 gol. Rekor langka itu baru bisa dipecahkan Chelsea di musim 2004/05 dengan hanya kebobolan 15 gol.
 
Phil Neal – Bek Kiri
Selama 11 tahun membela panji Liverpool, Phil Neal total telah mengumpulkan 11 medali juara. Raihan spektakuler itu hanya bisa dilewati sayap kiri Manchester United Ryan Giggs.
Dalam 445 penampilan untuk The Reds, Neal memenangi delapan trofi liga, lima Charity Shields, empat Piala Liga, empat Liga Champions, satu Piala UEFA, dan satu trofi Piala Super Eropa. Dia masih satu-satunya pemain Liverpool yang telah tampil di lima final kompetisi Eropa.
Meski berposisi sebagai bek, Neal cukup produktif dalam urusan mencetak gol. Dia total mencetak 41 gol buat dan salah satunya adalah gol penalti yang membawa Liverpool juara Liga Champions pada 19877. Neal memainkan 417 pertandingan secara beruntun dan rekor itu masih bertahan hingga kini.
 
Alan Hansen – Bek Tengah
Alan Hansen merupakan pemain penting bagi Liverpool dari 1977 hingga 1991. Selama 13 tahun membela The Reds, Hansen membantu klubnya meraih delapan trofi liga, tiga Liga Champions, dua Piala FA dan enam Charity Shields.
Bak batu karang, Hansen sangat kuat dalam bertahan. Kepiawaiannya mengawal lini pertahanan membuat frustrasi para penyerang lawan. Meski bernaluri defensif, dia masih bisa menyumbang delapan gol.
Bersama piala dan kemampuannya, Hansen masuk Liverpool XI sepanjang masa untuk kepemimpinannya yang menginspirasi. Dia dipercaya menjadi kapten pada 1986 ketika Liverpool menjadi klub ketiga yang mampu meraih gelar ganda, yaitu Liga Inggris dan Piala FA.
 
Jamie Carragher – Bek Tengah
Siapa yang tak mengakui kehebatan Jami Carragher dalam menghalau serangan lawan. Fans Liverpool pasti sepakat pemain yang memutuskan gantung sepatu di musim 2012/13 kemarin layak masuk  Liverpool XI terbaik sepanjang masa.
Carragher sudah memperkuat Liverpool semenjak 1990 saat tergabung dalam tim muda The Reds. Catatan titelnya hampir sama dengan Sami Hyypia. Lahir dan besar di Merseyside, Carragher memulai debutnya di tim utama Liverpool pada 1996. Dia merupakan pemain yang paling banyak membela Liverpool nomor dua setelah Ian Callaghan dengan membukukan 737 penampilan.
Selama 17 tahun membela The Reds, Carragher membantu klub meraih satu gelar Liga Champions edisi 2005, satu Piala FA dan satu Piala Liga pada 2001. Secara keseluruhan dia mengoleksi 10 medali dan memegang rekor sebagai pemain Britannia Raya yang paling banyak tampil di kompetisi Eropa.
 
Steve Nicol – Bek Kanan
Steve Nicol merupakan bagian dari kejayaan Liverpool di era 1980-an. Selama 13 tahun memperkuat The Reds, Nicol membantu klub meraih liga gelar Piala FA, empat Charity Shields dan Liga Champions edisi 1984. Dia total mencetak 46 gol dari 468 penampilan.
Nicol merupakan suksesor Phil Neal di sisi sayap kanan. Kemampuannya dalam bertahan membuat pertahanan Liverpool sulit ditembus dan menggaransi keamanan bagi penjaga gawang.
Pemain yang akrab disapa Chico itu tergolong pemain serba bisa. Dia bisa bermain di posisi bek kiri dengan sama baiknya. Kemampuannya itu pun membuatnya diganjar dengan piala individual Pemian Terbaik 1898 oleh Asosiasi Jurnalis Sepakbola Inggris [FWA].
 
Billy Liddel – Gelandang Kanan
Sangat sulit memang mengetahui kemampuan dari sosok Billy Liddel. Tak seperti pemain lainnya yang masuk dalam daftar, kita tidak bisa melihat aksi sang pemain. Namun begitu, dia masih merupakan salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah The Reds.
Dalam karier sepakbolanya yang dimulai saat Perang Dunia II meletus, Liddel menandatangani kontrak pertama bersama Liverpool pada 1938 dengan gaji £3 per pekan. Menyusul ditundanya liga akibat perang dunia, Liddel baru membuat debut resminya untuk Liverpool apda 1945.
Selama 17 tahun membela The Reds, Liddel total membukukan 534 penampilan dan mencetak 228 gol. Dia merupakan pencetak gol keempat terbanyak dalam sejarah Liverpool. Kendati sangat klinis di depan gawang, Liddel hanya memenangi satu trofi liga dan Piala FA.
Meski sulit membayangkan kemampuan Liddel di sepakboa modern, dia tetap pantas masuk daftar 11 skuat terbaik Liverpool sepanjang masa. Bentuk tubuhnya yang atletis, kecepatan, dan kemampuannya bermain di banyak posisi menjadi modal untuk tim mana pun di era mana pun.
 
Steven Gerrard – Gelandang Tengah
Sulit untuk tak memasukkan Steven Gerrard ke dalam daftar 11 skuat terbaik Liverpool sepanjang masa. Salah satu pesepakbola terbaik dan produk generasi emas, Stevie G telah dinominasikan beberapa kali untuk Ballon d’Or dan Pemain Terbaik FIFA. Dia finis ketiga untuk Ballon d’Or edisi 2005.
Untuk klub, Gerrard merupakan bagian dari tim fantastis Liverpool musim 200/01 yang memenangi Piala Liga dan Piala FA, runner-up liga dan Piala UEFA. Pada 2005, dia merupakan pemain kunci saat Liverpool menjuarai Liga Champions dengan mencetak 13 gol.
Secara total, Gerard telah mencetak 159 gol dari 629 penampilan dan dipercaya menjadi kapten tim. Permainanannya telah berubah dari yang dulunya agresif menjadi lebih kepada mengontrol permainan. Namun itu tak mengurangi pengaruhnya dalam permainan.
Masih mencari trofi Liga Primer Inggris pertamanya bersama Liverpool, Gerrard tak diragukan lagi merupakan ikon Liverpool dan lebih dari pantas untuk mendapatkan satu tempat di 11 skuat terbaik The Reds.
 
Grame Souness – Gelandang Tengah
Persis seperti Steven Gerrard, Graeme Souness merupakan bintang di lini tengah Liverpool dan sangat pantas masuk dalam daftar ini.
Selama memperkuat Liverpool dari 1977-1984, Sounesss total mencetak 55 gol, dan memenangi lima gelar liga, tiga Liga Champions dan empat Piala Liga.
Diplot sebagai pengganti Ian Callaghan, Souness langsung mencuri hati Liverpudlian di tahun pertamanya ketika gol sepakan volinya mengalahkan musuh bebuyutan Manchester United.
Lebih dikenal untuk distribusinya, Souness memiliki visi luar bisa dan sentuhan ajaib. Meski dia tak mampu berbuat banyak sebagai pelatih, Liverpudlian selalu mengenanya untuk permainannya yang enak ditonton di atas lapangan.
 
John Barnes – Gelandang Kiri
John Barnes merupakan salah satu sayap terbaik yang pernah dimiliki Liverpool. Piawai mengecoh lawan dan bertenaga kuda. Kinerjanya di atas pemain-pemain lainnya.
Pria kelahiran Jamaika ini total membukukan 407 penampilan dan mencetak 108 gol untuk The Reds. Musim terbaiknya terukir di 1989/90, di mana dia mampu melesakkan total 28 gol. Torehan gol fantastis bagi seorang pemain sayap.
Meski tak pernah mengenyam juara di kompetisi Eropa, Barnes mengakhiri 11 tahun kariernya di Anfield dengan catatan mentereng: dua gelar Liga Primer Inggris, dua Piala FA, tiga Charity Shield, dan satu Piala Liga.
 
Kenny Dalglish – Penyerang
Kenny Dalglish lebih dari layak untuk masuk dalam Liverpool XI sepanjang masa. Tak banyak striker yang memiliki kemampuan komplet seperti pemain berjuluk King Kenny ini.
Selama 13 tahun kariernya di Liverpool yang gilang-gemilang, Dalglish total melesakkan 172 gol dalam 515 penampilan. Torehan yang cukup impresif, yang menjadikannya masuk enam besar daftar pencetak gol terbanyak The Reds sepanjang masa.
Trofi-trofi mayor yang pernah dimenangi pemain asal Skotlandia ini antara lain, enam gelar Liga Primer Inggris, empat Piala Liga, tiga Liga Champions dan lima Charity Shields. Kecerdasan pengetahuannya pada permainan membuatnya meraih sukses ketika dipercaya menjadi manajer The Reds.
 
Ian Rush – Penyerang
Tak ada yang meragukan kemampuan Robbie Fowler di depan gawang lawan. Pun dengan Michael Owen. Tapi siap yang bisa membantah kehebatan Ian Rush?
Simak saja torehan golnya. Pemain asal Wales itu total melesakkan 346 gol yang diciptakannya dalam 660 penampilan. Koleksi golnya itu menjadikannya pencetak gol terbanyak Liverpool sepanjang masa. Salah satu anggota generasi emas Liverpool di era 1980-an ini meraih lima trofi Divisi Satu, tiga Piala FA, lima Piala Liga, lima Charity Shields dan dua trofi bergengsi Liga Champions.
Yang membuatnya beda dengan Fowler tak hanya dari jumlah gol yang dia lesakkan tapi nalurinya mencetak gol. Hanya sedikit pemain yang lebih fokus membuat dampak dan berhasil dibanding Rush, yang membuatnya berada di depan striker The Reds lainnya.
Melihat Rush berduet dengan King Kenny sangat menakutkan, dan itu mungkin masih akan demikian jika keduanya bermain bareng saat ini.

Rabu, 11 Desember 2013

William "Bill" Shankly

Bill Shankly
Nama Lengkap : William Shankly
Lahir : Glenbuck (Skotlandia), 2 September 1913
Meninggal : September 1981
Karier pemain : Carlisle United (1932-1933), Perston North End (1933-1949)
Karier pelatih : Carlisle United (1949-1951), Grimsby Town (1951-1953), Workington (1954-1955), Huddersfield Town (1955-59), Liverpool (1959-1974)
Prestasi : 3 Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA

“A football team is like a piano. You need eight men to carry it and three who can play the damn thing.”
"football is beyond life and death"
“Some people believe football is a matter of life and death, I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that.”
-Shankly

Kopitesside-id - Banyak orang yang mengira sepak bola adalah persoalan hidup dan mati. Saya sungguh kecewa. Sepak bola jauh lebih besar dari sekadar urusan hidup dan mati.”

Ada perasaan aneh saat mendengar statemen tersebut. Logika normal seolah berontak. Bagaimana mungkin persoalan hidup dan mati menjadi seekor "semut" jika dibandingkan dengan sepak bola. Jangan pernah mengkritisi statemen tersebut kepada seorang Bill Shankly. Wajahnya bakal berkerut, lalu dengan meledak-ledak berargumentasi. Bagi Shankly, keyakinan itu sudah terbatinkan. Football is everything. Sebanding dengan agama. Baginya, sepak bola harus disikapi secara total dan maksimal.


Penikmat sepak bola yang relatif baru mungkin jarang mendengar Bill Shankly. Telinga akan lebih akrab mendengar nama Sir Alex Fergusson atau juga Arsene Wenger. Tanpa bermaksud menyepelekan Fergie atau Wenger, berdasarkan poling TEAMtalk dan World Soccer 2001, Shankly merupakan pelatih paling legendaris di Britania Raya. Mengungguli 2 nama pelatih besar tersebut.

Pencinta Liverpool memujanya seperti malaikat. Dia dianggap sebagai pelatih terbesar. Selama membesut "The Reds" dari 1959 hingga 1974, Shankly telah menghadiahi pendukung Liverpool 3 gelar Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA.


Harap dicatat, bukan raihan gelar itu yang membuat pendukung Liverpool rela mendirikan monumen untuk mengenang Shankly. Pria yang meninggal pada 1981 tersebut dianggap sebagai peletak fondasi kebesaran Liverpool.



Saat kali pertama ditunjuk menjadi pelatih Liverpool oleh TV Williams—Presiden Liverpool kala itu—pada 1959, Shankly punya PR besar. Selain terpuruk di Divisi II, kondisi Liverpool sangat parah. Lapangan becek, tribun penonton reot, dan kamar ganti pemain amburadul. Reformasi total pun dilaksanakan Shankly. Shankly tak hanya berhasil menuntaskan problem internal. Dia juga sukses memberikan sederet pundi-pundi gelar, baik di kancah lokal atau Eropa, sekaligus memberikan dasar-dasar yang kuat bagi para penerus. Keberhasilan Bob Paisley pada era 1980-an, juga berkat jasanya.

KAMPIUN BRITANIA RAYA

Bill Shankly lahir pada 1913 di daerah pertambangan Glenbuck, Skotlandia. Suatu kawasan yang sangat menggemari sepak bola, selain politik tentunya. Sepak bola merupakan alasan untuk hidup. Pada periode 1890-1940, daerah Glenbuck telah menelurkan lebih dari 50 pebola profesional.


Shankly tumbuh seperti rekan-rekan sebayanya. Bekerja sebagai tukang tambang 6 hari seminggu. Hanya menyisakan Sabtu malam untuk bersosialisasi dan hari Minggu untuk bermain bola. Sangat membosankan.

Sepak bola sudah menjadi jalan hidup bagi Shankly untuk meretas kebebasan. Pada 1932, dia bergabung dengan Carlisle United dan beberapa tahun kemudian pindah ke Preston North End Club. Shankly tercatat pernah memperkuat timnas Skotlandia sebanyak 7 kali. Saat menginjak umur 33 tahun, pria berkarakter keras ini memutuskan gantung sepatu.


Karier kepelatihannya diretas dengan membesut Carlisle, kemudian berlanjut ke klub yang lebih besar seperti Grimbsy, Workington, dan Huddersfield. Fase paling penting pada 1959. Dia diberi kepercayaan oleh Presiden Liverpool, TV Williams, untuk membenahi "The Reds". Tugas yang sangat berat. Kondisi Liverpool saat itu compang-camping dan terpuruk di Divisi II.


Revolusi dijalankan. Untuk pola permainan, Shankly memperkenalkan ilmunya yang kemudian melegenda, the five-a-side games atau passing game. Menurut Shankly, sebenarnya sepak bola itu sederhana, yakni seni mengumpan dan bergerak. Yang diperlukan adalah kecerdasan berpikir untuk mengumpan dan mencari ruang untuk menerima umpan. Intinya, Shankly menekankan para pemainnya untuk menggunakan otak dalam bermain.


Pembenahan kedua, Shankly meminta agar tempat latihan di Melwood dipugar. Shankly punya cara paten untuk membentuk kesolidan tim. Dia mewajibkan semua pemain berkumpul di Anfield untuk kemudian berbarengan naik bus ke Melwood. Seusai latihan, para pemain kembali diwajibkan untuk balik dulu ke Anfield bersama-sama.


Shankly juga menanamkan filosofi penting untuk para pemainnya. "If you are first you are first. If you are second, you are nothing." Maksudnya, tak ada kamus untuk kalah. "The Reds" harus selalu yang nomor satu. Pelatuk yang ia canangkan saat itu, menggusur dominasi rival sekota (Everton) dan menjadikan "The Reds" sebagai klub nomor satu di Liverpool.


Hasilnya ciamik. Dalam empat musim, "The Reds" dia angkat kembali promosi ke Divisi Utama. Tak tanggung-tanggung, begitu naik ke Divisi Utama musim 1963-64, tahta jawara langsung direbut. Setahun berikutnya, untuk pertama kalinya Liverpool merengkuh Piala FA. Level Eropa juga dikangkangi dengan merebut Piala UEFA 1973.



Pada masa besutannya, Liverpool memasuki era gilang-gemilang. Tahun 1974, saat umurnya menginjak 61 tahun, Shankly memutuskan pensiun. Bukan terlalu dini. Dia sudah membawa banyak kebesaran buat Liverpool. Sukses yang lahir berkat filosofinya: sepak bola bukan sekadar hidup dan mati.







 
“If you are first you are first. If you are second you are nothing.”
“If you can’t support us when we lose or draw , don’t support us when we win”
YNWA SHANKS
Thanks...

Selasa, 10 Desember 2013

Hall Of Fame

Kopitesside-id - Liverpool FC tidak akan menjadi klub yang ada sekarang ini tanpa komitmen dan semangat dari tiap pemain yang pernah mengenakan seragam merah legendaris dan tiap manajer yang pernah menempati Anfield dug-out yang terkenal.
Tetapi, walaupun kesuksesan Liverpool selalu didasari oleh prinsip kerjasama tim, ada beberapa individu yang akan selalu dikenang dan dikenal atas kontribusinya untuk Liverpool FC.
Berikut ini adalah 15 anggota pertama dari International Hall of Fame LFC...

Ian Rush - Striker LFC, 1980-1996

Hanya satu kata yang dapat menjabarkan karir Ian Rush di Liverpool: Gol. Pemain asal Wales ini mencetak 346 gol dari 660 penampilan, sebuah rekor klub yang sangat sulit dilampaui.
Tidak ada yang dapat mengguncang the Kop lebih daripada sebuah gol, dan Rush adalah orang yang dapat menyebabkan 'kerusakan' pada tribun legendaris tersebut. Terlebih lagi, instingnya dalam mencetak gol memainkan peranan penting bagi the Reds dalam mendominasi permainan sepanjang dekade 1980an. Di Anfield, ia sangat dicintai. Di Eropa, ia menjadi sosok yang sangat ditakuti dan disegani.

Bob Paisley - Manajer LFC, 1974-1983

20 trofi dalam 9 musim - tidak buruk bagi seseorang yang bahkan tidak ingin untuk menjadi manajer Liverpool FC.
Mengikuti jejak legendaris Bill Shankly adalah tugas yang mustahil bagi banyak orang, tetapi Paisley mampu menunjukkan taringnya. Pencapaiannya dalam waktu yang sangat singkat sebagai manajer - termasuk memenangkan 3 Piala Champions - tidak dapat diremehkan, atau dilampaui. Tidak diragukan lagi, di dunia sepakbola ia dikenal sebagai sang Manager of the Millenium.

Ian Callaghan - Pemain Tengah LFC, 1960-1978

Tidak ada seorangpun yang pernah bermain untuk Liverpool melebihi Ian Callaghan. Kemungkinannya: tidak akan pernah ada. Cally mengenakan lambang Liver bird di dadanya sebanyak 857 kali selama 18 tahun karirnya di klub ini. Tidak ada panutan yang lebih baik bagi para pemain baru dari seorang pemain tengah yang tindakannya melambangkan segala sesuatu yang baik dari sepakbola itu sendiri.
Pria sejati kelahiran Toxteth ini adalah satu-satunya pemain yang bertahan sejak Liverpool masih berada di Divisi Dua, hingga akhirnya menapaki puncak sepakbola Eropa. Sepanjang perjalanannya, ia mendapatkan tiap penghargaan yang ada, termasuk penghargaan tertinggi dari rekan-rekannya dan dari para fans, serta ia hanya sekali mendapatkan kartu peringatan.

Kenny Dalglish - Pemain dan Manajer LFC, 1977-1991 and 2011-2012

Hanya akan ada satu Raja dan tokoh yang berhak duduk di singgasana Anfield, dan orang tersebut adalah Kenneth Mathieson Dalglish. Dengan tangan dinginnya dan pengetahuan sepakbolanya, King Kenny dihormati oleh Liverpudlian sebagai pemain terbesar yang pernah bermain untuk Liverpool.
Sebelum ia bergabung di bulan Agustus 1977, tim asuhan Bob Paisley terlihat sangat kesulitan saat meraih Piala Champions pertamanya. Tetapi dengan adanya sosok influensial seperti Dalgish di dalam tim, 13 tahun berikutnya menjadi tahun-tahun yang terbaik bagi Liverpool FC. Sebagai pemain yang bertalenta, apa yang ia capai sebagai manajer Liverpool menegaskan status legendarisnya dengan memberi dua gelar di tahun 1986, diikuti dengan titel Liga Inggris tahun 1988 dan 1990, ditambah lagi dengan Piala FA dari all-Merseyside final di tahun 1989.

Graeme Souness - Pemain Tengah LFC, 1978-1984

Seorang pesepakbola dengan kepiawaian pemain biola - itulah bagaimana seseorang mendeskripsikan Graeme Souness. Ia adalah seorang pemain tengah yang memiliki keberanian luar biasa dengan sentuhan yang sangat halus. Souness turut serta membawa 15 trofi ke Anfield selama enam tahun karirnya di klub, dan menjadi salah satu dari empat kapten the Reds yang mengangkat Piala Champions.
Di puncak karirnya, sang 'Emperor of Anfield' ini dipandang sebagai seorang pemain tengah serba bisa, dan penghargaan ini tidak berubah meski ia tidak berhasil sebagai manajer.

Albert Stubbins - Striker LFC, 1946-1953

Penyerang tengah Albert Stubbins adalah salah satu pemain Liverpool yang sangat terkenal setelah Perang Dunia Kedua. Ia telah menjadi pemain yang subur dan berpengalaman ketika bergabung dari Newcastle tahun 1946, ia mencetak 232 gol di 190 pertandingannya semasa era Perang Dunia. Gol pertamanya ia ciptakan di kandang Bolton dan mengakhiri musim sebagai Juara Liga Championship serta menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 24 gol.
Secara keseluruhan, ia tampil sebanyak 178 kali bersama tim utama dan mengakhiri karirnya di Merseyside dengan mengemas total 83 gol.

Robbie Fowler - Striker LFC, 1992-2001 and 2006-2007

Ditahbiskan sebagai 'God' oleh the Kop, Robbie Fowler adalah salah satu pemain yang sangat dicintai dalam sejarah Anfield. Sebagai Evertonian di masa kecilnya, ia mencetak debutnya di pertandingan Piala Liga melawan Fulham, sebelum kemudian penonton dan pundit dibuat kagum dengan 5 golnya sekaligus pada leg kedua di Anfield. Ditambah dengan hat-trick tercepat dalam sejarah Liga Premier ketika melawan Arsenal, ia berubah dari seorang pemain yang menjanjikan - menjadi seorang superstar di musim pertamanya.
Kepopuleran Fowler di antara fans menyamai Kenny Dalglish, dan dirinya menjadi sosok yang penting bagi Liverpool dalam memenangkan Treble di tahun 2001.

Phil Neal - Pemain Belakang LFC, 1974-1985

Phil Neal adalah pemain dengan gelar juara terbanyak dalam sejarah Liverpool. Pada kenyataannya, tidak ada seorang pemain Inggris yang dapat meraih medali sebanyak dirinya. Bek tangguh ini turut serta membawa 22 piala ke dalam ruang trofi Anfield serta menjadi satu-satunya pemain Liverpool yang membawa timnya memenangkan empat Piala Champions.
Julukan 'Mr Consistency' melekat erat pada dirinya selama ia bermain untuk Liverpool. Ditarik dari tim Divisi Empat dengan nilai kontrak sebesar £66,000 di bulan Oktober 1974, mantan pemain Northampton Town ini adalah pilihan pertama Bob Paisley dan terbukti menjadi yang paling berkesan. Ia meninggalkan Anfield dengan setumpuk medali, termasuk 4 Piala Champions, 8 titel Liga Inggris, 4 Piala Liga dan satu Piala UEFA.

Bill Shankly - Manajer LFC, 1959-1974

Bill Shankly adalah figur yang terpopuler dalam sejarah Liverpool FC. Sebagai seseorang yang kharismatik, ia menyadari mimpinya dalam mengubah klub ini menjadi kekuatan yang paling dominan di persepakbolaan Inggris. Semangatnya terpancar dari awal sejarah LFC berdiri.
Namanya bersinonim dengan pengertian 'the Liverpool way', warisannya telah menguasai Eropa sebanyak lima kali dan memonopoli kompetisi domestik selama lebih dari dua dekade. Sampai hari ini, semangat dari seseorang yang menjuarai Piala FA pertama bagi Liverpool di tahun 1965 tetap jaya di Anfield, dimana patungnya berdiri di depan the Kop yang ia cintai dan Shankly Gates dengan menyandang kata-kata yang abadi, 'You'll Never Walk Alone'.

John Barnes - Pemain Tengah LFC, 1987-1997

Tidak ada pemandangan yang lebih indah di dalam sepakbola seperti kemegahan John Barnes ketika menyusuri sisi lapangan. Datang ke Liverpool bersama dengan penyerang yaitu John Aldridge dan Peter Beardsley, Barnes adalah gabungan sempurna dari keahlian dan kekuatan. Kaki kirinya telah menjatuhkan banyak tim, sepanjang Liverpool membawa sepakbola Inggris ke tingkatan yang lebih tinggi dengan membukukan rekor 29 pertandingan tanpa kekalahan, dan mengamankan titel Liga ke-17.
Tidak mengejutkan jika ia meraih gelar Pemain Terbaik di tahun 1987-88. Kualitas yang ia miliki telah membawanya ke bagian sejarah Liverpool yang terbaik - seperti yang pernah dikatakan oleh Bob Paisley, seragam No.7 akan selalu melekat dengan Kenny Dalglish, demikian juga seragam No.10 akan menjadi milik Barnes selamanya

Joe Fagan - Manajer LFC, 1983-1985

Sebagai pekerja yang efektif dan pendiam di belakang layar, naiknya Joe Fagan ke singgasana Anfield adalah sesuatu yang logis - setelah ia menempati posisi di bawah Bob Paisley ketika Bill Shankly mundur tahun 1974.
Bukanlah tugas yang mudah untuk mengikuti Paisley dan sederet trofi yang diraih selama masa jabatannya, tetapi bagi Fagan hal tersebut adalah sebuah tantangan. Ia berhasil memimpin the Reds menuju treble Liga Inggris, Piala Champions dan Piala Liga.
Di bawah Fagan, the Reds bermain dengan tenang, mengukur efisiensi, dengan tiap bagian berfungsi dalam keseimbangan dan keharmonisan. Ia meninggal dunia pada bulan Juli 2001 di usia 80 tahun, tetapi Joe akan selamanya dikenang sebagai salah satu manajer terbaik the Reds, dan salah seorang penghuni terbesar Bootroom.

Billy Liddell - Pemain Sayap LFC, 1939-1961

Bagi beberapa generasi Liverpudlian, Billy Liddell akan tetap menjadi pemain terbesar yang pernah mengenakan seragam merah. Karena pengaruhnya yang besar dan sebagai bentuk penghormatan, suporter bahkan memberi julukan pada klub yang diambil dari namanya: Liddellpool.
Pemain sayap ini naik ke permukaan di tengah masa-masa kelam pada dekade 1950an ketika the Kop bersedih akibat masuk ke zona degradasi dan gagal meraih piala apapun. Sepanjang era kemandulan yang hampir tidak tercatat di dalam sejarah Liverpool, pemain asal Skotlandia ini memastikan bahwa ribuan pendukung klub tetap memadati Anfield dan turut serta menjaga klub ini berada di atas permukaan sepakbola Inggris.

Ian St John - Striker LFC, 1961-1971

Ian St John bertanggung jawab atas satu-satunya momen terbaik di era Shankly. Adalah golnya di masa extra time yang membawa klub meraih Piala FA untuk pertama kalinya tahun 1965 dengan perayaan oleh ratusan ribu pendukung yang tumpah ruah memadati jalan kota Liverpool.
Bahkan sampai hari ini, setelah malam-malam Eropa yang luar biasa di Roma dan Istanbul, kemenangan pertama di Wembley itu masih dikenang sebagai salah satu momen terbaik LFC. Kontribusi St John bagi the Reds tidaklah hanya sebuah gol, pemain asal Skotlandia ini adalah figur penting dalam transformasi Liverpool FC dari tim Divisi Dua menjadi salah satu klub yang sangat ditakuti di Eropa.

Rafael Benitez - Manajer LFC, 2004 - 2010

Ia adalah Mesias dari Spanyol, seorang jenius dalam taktik, yang mengembalikan reputasi Liverpool sebagai salah satu klub terbesar di Eropa, dan memimpin tim menuju salah satu kemenangan terbaik LFC di dalam sejarah. Tahun pertama Benitez di Inggris berakhir seperti dongeng, tahun yang berakhir dengan pencapaiannya di Eropa yang sudah pasti menempatkannya di tempat terbaik dalam sejarah Anfield.
Jika dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan oleh Bill Shankly dalam membangun Liverpool menjadi sebuah kekuatan yang ditakuti, Benitez melakukan hal tersebut dalam waktu yang singkat, dan menghapus kekecewaan atas posisi lima di Liga Premier menjadi sebuah keberhasilan dengan meraih sukses di Eropa untuk kelima kalinya. Untuk merangkum legendanya hanya dalam enam menit mungkin akan mengecilkan seluruh kesuksesannya, tapi beberapa menit tersebutlah yang menjadi momen terpenting setelah paruh pertama di pertandingan hari Rabu, 25 Mei 2005. Yang pasti, suporter Liverpool tidak akan melupakan keajaiban di Istanbul.

Roger Hunt - Striker LFC, 1958-1969

Sebagai satu-satunya pemain yang menerima gelar kehormatan Ksatria dari Anfield, Roger Hunt adalah salah satu figur yang paling populer yang pernah mengenakan seragam merah. Alasan mengapa ia belum dianugerahi gelar 'Sir' oleh Ratu Inggris sangatlah sulit dipahami, terutama ketika ia menjadi satu-satunya pemain the Reds yang bertanding dan menjadi starter untuk Inggris ketika menjuarai Piala Dunia tahun 1966.
Alasan mengapa Hunt akan selalu dikenang di Merseyside adalah karena kesuksesannya di klub. Sebelum era Ian Rush, Hunt membukukan rekor sebagai pencetak gol terbanyak, dan sampai hari ini tidak ada yang bisa mencetak gol bagi Liverpool lebih banyak dari dirinya di Liga
sumber : http://indonesia.liverpoolfc.com/history/hall-of-fame

Robert "Bob" Paisley



BOB PAISLEY
1974 – 1983
Honours:
Div 1 Champions 1976, 77, 79, 80, 82, 83
League Cup 1981, 82, 83
European Cup 1977, 78, 81
UEFA Cup 1976
European Super Cup 1977
Games 535
Games Won 308
Games Drawn 131
Games Lost 96

Kopitesside-ID - Robert "Bob" Paisley OBE (23 Januari 1919 — 14 Februari 1996) adalah pesepak bola Inggris yang menjadi salah satu manajer tersukses dalam sejarah sepak bola Inggris ketika menjadi manajer Liverpool Football Club diera 1970an hingga 1980an, satu-satunya tim yang pernah ditanganinya.

Sebagai pemain. Paisley kecil memulai karirnya di klub Bishop Auckland dalam kurun waktu 1937-1939 dan mengukuhkan diri sebagai bek kanan yang handal. Pada tahun 1939, ia bergabung ke tim utama Liverpool meskipun harus melalui periode cuti panjang akibat Perang Dunia hungga tahun 1946. 

Di musim pertamanya pascaperang dunia 2, gelar liga langsung diraih dan sayangnya menjadi satu-satunya gelar sebagai pemain hingga akhir karirnya pada 1954. Pascapensiun, klub mengalami periode buruk karena mengalami degradasi dan bermain di divisi dua selama lima musim.

Pensiun sebagai pemain, Bob yang lahir di Durham pada 23 januari 1919 masuk jajaran staf pelatih The Reds di bawah kepemimpinan Bill Shankly yang lebih tua enam tahun darinya pada tahun 1959. Sebagai asisten, ia banyak memberi ide-ide brilian kepada Shankly hingga membuat klub memulai masa-masa kejayaanya pada periode 1963/1964 hingga 1973/1974 dengan torehan tiga gelar liga dan dua Piala FA. Usai Shankly pensiun, ia menggantikannya.

Di periode Paisley, The Reds mengalami kejayaan yang sesungguhnya yang membuat klub begitu disegani di Inggris dan Eropa. Sempat merasa kecewa karena hanya berhasil menduduki posisi runner-up di musim 1975/1976, musim berikutnya gelar jawara berhasil diraih dan ditambah menjadi tiga gelar dalam empat musim berikutnya. 

Piala Eropa (kini Liga Champions) pertama kali digenggam Liverpool pada tahun 1977. Malam 25 Mei 1977 di Roma, menjadi malam tak terlupakan. Di babak final, Liverpool menumbangkan Borussia Moenchengladbach dengan skor 3-1, dalam melalui waktu tambahan.
 
Musim berikutnya, 1978, Liverpool berhasil mempertahankan gelar juara Piala Eropa, dengan mengalahkan FC Brugges 2-1 di babak final. Gelar ketiga juara Piala Eropa dipersembahkan Bob Paisley bagi Liverpool pada tahun 1981. Di pertandingan final, Real Madrid C.F. (0) ditaklukkan Liverpool (1). Kemenangan pertamanya diraihnya di stadion Olimpico, markas AS Roma dan membuatnya kalimatnya yang diucapkan terkenal hingga kini. "This is the second time I've beaten the Germans here...the first time was in 1944. I drove into Rome on a tank when the city was liberated." (Ini adalah kali kedua saya mengalahkan orang Jerman di sini...yang pertama adalah tahun 1944. Saya menumpang tank ke Roma saat kota itu dibabaskan)
 
Paisley ahli dalam menggerakkan para pemain sesuai dengan sederet skenario berbeda yang ingin diterapkannya di atas lapangan. Faktor psikologis adalah elemen terpenting dalam strateginya, dan itu membuat dia bisa menarik kemampuan terbaik dari tim besutannya 
Pada 1979, Liverpool sebagai juara Liga Inggris Divisi Satu mencatatkan hanya 16 kebobolan gol dari lawan-lawannya dalam 42 pertandingan. Sebagai juara bertahan, Liverpool tetap mengukuhkan diri sebagai juara liga pada 1980. Karena prestasinya ini Paisley memenangi enam penghargaan LMA Manager of the Year: 1976, 1977, 1979, 1980, 1982 dan 1983. 

Setelah kesuksesan di era 70-an, Paisley meraih gelar dua gelar liga lagi dan satu gelar Liga Champions pada 1981. Kesuksesanya bersama klub juga menular kepada dua klub Inggris lain yaitu Nottingham Forest yang sukses meraih dua gelar Eropa beruntun di tangan Brian Clough dan Aston Villa yang mengandaskan Bayern Muenchen semusim setelah Liverpool meraih gelar ketiganya. Di akhir musim 1982/1983, Ia memutuskan untuk pensiun dari sepakbola hingga akhir hayatnya pada 14 februari 1996 dan mendapat gelar Order British Empire.

Joe Fagan sebagai sesama asisten pelatih Bill Shankly menjadi penggantinya selama dua musim. Di tanganya, The Reds meraih treble winners (liga, piala carling dan Liga Champions).Yang istimewa gelar tersebut kembali diraih di Olimpico dengan mengalahkan tuan rumah, AS Roma melalui adu penalti pada 1983/1984. Kelak prestasi unik ini kembali diulangi oleh klub Inggris lainya, Chelsea yang mengalahkan tuan rumah Bayern Muenchen di Allianz Arena 28 tahun berselang. 

Paisley divonis menghidap penyakit Alzheimer. Beliau wafat pada 14 Februari 1996 ketika berumur 77 tahun. Paisley Gates dibangun untuk memberi penghormatan atas jasa beliau kepada klub Liverpool FC.
RIP Sir Bob Paisley
Thanks  And Youll Never Walk Alone


"This club has been my life. I'd go out and sweep the street and be proud to do it for Liverpool FC if they asked me to."
"Other people have earned more money than me in football but no-one has enjoyed it as much as me."
-bob paisley

Minggu, 08 Desember 2013

Kenneth Mathieson "King Kenny" Dalglish

Profil ''Kenny Dalglish''

Birthdate: 4 March 1951
Birthplace: Glasgow, Scotland
Other clubs: Player: Celtic (1967-77), Cumbernauld United (loan 1967-68). Manager: Blackburn Rovers (1991-95), Newcastle United (1997-98), Celtic (2000)
Bought from: Celtic
Signed for LFC: £440,000, 10.08.1977
International debut: 10.11.1971 vs. Belgium
International caps: 102/30 (55/14 at LFC) - 12.11.1986
Liverpool debut: 13.08.1977
Last appearance: 01.05.1990
Debut goal: 20.08.1977
Last goal: 18.04.1987
Contract expiry: 1990
Win ratio: 60% W: 309 D: 120 L: 86
Games/goals ratio: 2.99
LFC league games/goals: 355 / 118
Total LFC games/goals: 515 / 172 

KopitesSide - Kenneth Mathieson Dalglish atau yang lebih sering dipanggil Kenny Dalglish adalah salah satu mantan pemain sepak bola profesional yang berasal dari Scotland. Ia lahir pada tanggal 4 Maret 1951 di Glasgow, Scotland dan saat ini ia merupakan salah satu pelatih yang menangani klub Liverpool.
Beliau adalah seorang manager Liverpool yg mengalami masa "suram" dan "bahagia" di Liverpool. Kenny semasa menjabat sebagai manager Liverpool telah mengalami 2 tragedi terburuk dalam sejarah Liverpool dan sepak bola.
Pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish, Liverpool FC dibawa menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali dan juara Piala FA sebanyak 2 kali, termasuk gelar ganda juara Liga Inggris dan juara Piala FA pada musim kompetisi 1985-86. Bila tidak terkena sangsi dari UEFA, bisa dipastikan Liverpool FC menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion pada saat itu.

Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish kembali dibayangi kejadian mengerikan lainnya yaitu Tragedi Hillsborough. Pada pertandingan semi-final Piala FA melawan Nottingham Forest F.C. tanggal 15 April 1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan Liverpudlian yang berada di tribun terjepit pagar pembatas stadion. Hal ini mengakibatkan 94 Liverpudlian meninggal di tempat kejadian, 1 Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian di rumah sakit dan 1 Liverpudlian lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun.

Akibat Tragedi Hillsborough ini pemerintah Inggris melakukan penelitian kembali mengenai faktor keamanan stadion sepak bola di negaranya. Dikenal dengan sebutan Taylor Report, menyebutkan bahwa penyebab dari Tragedi Hillsborough ini adalah faktor penonton yang melebihi kapasitas stadion karena kurangnya antisipasi dari pihak keamanan. Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan setiap klub divisi I Inggris untuk meniadakan tribun berdiri.

Setelah menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan Heysel dan Hillsborough, 'King' Kenny Dalglish tidak pernah bisa lepas dari trauma yang menghinggapi dirinya. Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1990 ia mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer Liverpool FC. Pengumuman yang sangat mengejutkan dunia sepak bola pada saat itu, karena Liverpool FC sedang bersaing ketat dengan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris.

Alasan yang disebutkan oleh Kenny Dalglish pada saat itu adalah tidak bisa lagi menghadapi tekanan dalam menahkodai Liverpool FC. Selama beberapa minggu Liverpool FC ditangani oleh pelatih tim utama Ronnie Moran sebelum akhirnya Liverpool FC menunjuk Graeme Souness sebagai manajer berikutnya. 'King' Kenny Dalglish kemudian dikenang sebagai legenda terhebat Liverpool FC karena sangat sukses baik sebagai pemain maupun manajer.

Penghargaan

Sebagai pemain 

Celtic

  • Scottish First Division (4): 1971–72, 1972–73, 1973–74, 1976–77
  • Scottish Cup (4): 1971–72, 1973–74, 1974–75, 1976–77
  • Scottish League Cup (1): 1974–75
Liverpool
  • Football League First Division (6): 1978–79, 1979–80, 1981–82, 1982–83, 1983–84, 1985–86
  • FA Cup (2): 1985–86, 1988–89
  • League Cup (4): 1980–81, 1981–82, 1982–83, 1983–84
  • Charity Shield (7): 1977, 1979, 1980, 1982, 1986, 1988, 1989
  • European Cup (3): 1977–78, 1980–81, 1983–84
  • UEFA Super Cup (1): 1977

Sebagai pelatih

Liverpool
  • Football League First Division (3): 1985–86, 1987–88, 1989–90
  • FA Cup (2): 1985–86, 1988–89
  • League Cup (1): 2011–12
  • FA Charity Shield (4): 1986, 1988, 1989, 1990
  • Screens Sport Super Cup 1986
Blackburn Rovers
  • FA Premier League (1): 1994–95
  • Football League Second Division Play Off Winners (1): 1991–92
Celtic
  • Scottish League Cup (1): 1999–2000

 

Gelar individu

  • Ballon d'Or Silver Award (1): 1983
  • FWA Footballer of the Year (2): 1980, 1983
  • PFA Player of the Year (1): 1983
  • FWA Tribute Award: 1987
  • Scottish Premier Division Golden Boot (1): 1976
  • Manager of the Year Award (4): 1986, 1988, 1990, 1995
  • Premier League Manager of the Month (2): January 1994, November 1994
  • Freedom of the City of Glasgow (1): 1986
  • Inaugural Inductee to the English Football Hall of Fame (1): 2002
  • Member of the FIFA 100
  • Member of the Scotland Football Hall of Fame

Records

  • Most caps for Scotland: 102
  • Most goals for Scotland: 30

Jamie "KING CARRA" Carragher


KopitesSide - Di era sepakbola modern dan penuh gelimang uang seperti sekarang ini, loyalitas terhadap satu klub jadi sesuatu yang langka. Tidak banyak pemain berkelas bertahan lama di satu klub, apalagi menghabiskan karir profesionalnya hanya di satu klub saja. Salah seorang dari sedikit pemain itu adalah Jamie Carragher. Pria kelahiran Bootle, Merseyside, 28 Januari 1978 ini baru saja pensiun sebagai pemain dan sepanjang karirnya hanya memperkuat satu klub saja, yaitu Liverpool.

Ia kerap mendapat pertanyaan, apakah pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan Liverpool dan pindah ke klub lain yang mungkin lebih besar dari The Reds. Jawabannya simpel saja, “Saya tentu tertarik bermain di klub yang lebih besar dari Liverpool. Tapi saya tetap bertahan karena tidak ada klub yang lebih besar dari Liverpool.” Jawaban seperti itu sepertinya kerap dipakai beberapa pemain saat ditanyakan kenapa tetap bertahan di klub yang sedang diperkuatnya.

Kiper Liverpool, Pepe Reina, pernah mengatakan hal yang hampir serupa saat ditanya apakah ia bersedia menerima kalau ada tawaran dari Barcelona yang kerap diberitakan ingin mendapatkannya kembali. Ucapan Reina masih harus menunggu pembuktian, tapi faktanya Liverpool adalah klub ketiga yang pernah diperkuat kiper asal Spanyol tersebut. Sedangkan Carragher sudah membuktikan ucapannya. Terdengar simpel dan agak bombastis, tapi itulah jawaban terbaik dari seorang bek yang dikenal tanpa kompromi dalam setiap permainannya.

Mental Pemenang & Pantang Menyerah
Para fans Liverpool sempat berharap sang legenda akan menunda keputusannya untuk pensiun. Namun setelah 17 tahun bermain, tampil lebih dalam 700 laga dan 35 kali memperkuat tim nasional Inggris, pria yang akrab disapa Carra ini sudah bertekad bulat untuk mundur dari panggung sepakbola. Ia terakhir kali mengenakan kostum merah-merah saat laga melawan QPR pada 19 Mei lalu yang merupakan laga terakhir di musim 2012/13.

Sebagai bek, ia memang kurang punya kecepatan maupun kemampuan untuk memberikan umpan-umpan terukur. Hal itu membuat pemain yang sempat menjadi bek sayap kanan ini akhirnya diplot sebagai bek sentral. Posisi tersebut ternyata merupakan posisi terbaiknya. Carra pun selalu memberikan yang terbaik dan tampil penuh semangat di setiap laga yang dilakoni timnya. Ia mempunyai mental seorang pemenang dan pantang menyerah.

Yang paling khas ia selalu berteriak lantang tiap kali mengorganisir lini pertahanan saat lawan mendapat tendangan bebas atau tendangan sudut. Sosoknya memang disegani kawan maupun lawan. Bahkan Sir Alex Ferguson yang pernah menangani klub seteru Liverpool, Manchester United, termasuk pengagum Carra. Ferguson sempat mengatakan kalau Carra adalah tipe pemain yang disukainya dan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Liverpool.

Rencana pensiun Carra sepertinya memang harus terjadi di musim 2012/13 karena ia tampil kembali pada performa terbaiknya. Kesalahan yang kerap dilakukan pemain utama seperti Martin Skrtel dan Daniel Agger membuat pelatih Brendan Rodgers kembali memasang Carra sebagai pemain utama. Keputusan itu terbukti tepat, karena sang wakil kapten mampu tampil solid dan konsisten meski terkadang kalah dalam hal kecepatan.

Tekad Carra untuk pensiun pun semakin bulat, karena ia tak ingin menjadi pemain terlupakan, tampil buruk, terpinggirkan dan akhirnya pensiun karena sudah sulit mendapatkan kesempatan bermain. Ia ingin dikenang sebagai pemain yang tetap dalam permainan terbaik meski sedang menjalani musim terakhirnya. Banyak yang mengatakan, terutama para fans, kalau Gerrard adalah jantungnya Liverpool. Anggapan itu mungkin benar, tapi Carra pun pantas disebut sebagai jiwanya Liverpool. Julukan itu diperoleh bukan hanya karena sepanjang karirnya di bermain untuk Liverpool, tapi pantas dijadikan panutan bagi pemain yang lebih muda maupun pemain lainnya.

Ia bermain seperti mempertahankan harga diri klubnya maupun dirinya sendiri. Contoh jelasnya adalah panggung final Liga Champions 2005 saat menghadapi AC Milan. Di tanggal 25 Mei di Istanbul, akan dikenang sebagai malam paling bersejarah karena membuat The Reds menjadi klub Inggris tersukses di Eropa sampai saat ini dengan merebut trofi Liga Champions untuk kelima kalinya. Masih teringat jelas saat Carra bertarung sepenuh hati untuk mempertahankan daerahnya dan mencegah Milan mencetak gol kemenangan saat skor sedang imbang 3-3. Kerja kerasnya terbayar dan Gerrard mengangkat piala kemenangan di malam itu.

Antara Timnas & Klub
Momen itu merupakan salah satu masa-masa keemasan pemain bernomor punggung 23 tersebut.
Bukan hanya lugas dalam bermain, ia juga vokal dalam menghadapi berita miring mengenai dirinya. Salah satunya terjadi saat ia memutuskan untuk pensiun dari timnas Inggris pada 2007. Keputusan itu mengundang kritik tajam dari seorang pemandu program TalkSport, Adrian Durham di sebuah stasiun televisi di Inggris. Carra tidak menyukai klaim dari Durham dan langsung menghubungi stasiun televisi tersebut untuk berdebart mengenai keputusannya mundur dari timnas Inggris.

Carra terpaksa mengambil langkah mundur karena kerap tidak ditempatkan di posisi bek sentral. Ia pun jarang menjadi pilihan utama dan beberapa kali diplot sebagai gelandang bertahan, seperti pernah dilakoninya di Piala Dunia 2006 saat Inggris dilatih Sven-Goran Eriksson. Karena itu, Carra tidak menutup pintu sepenuhnya dan menyambut tawaran Fabio Capello untuk masuk skuat Inggris menghadapi Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Total, ia bermain 38 kali untuk Inggris dari 1999 sampai 2010 dan masuk skuat di Piala Eropa 2004, Piala Dunia 2006 & 2010.

Carra kembali memutuskan untuk pensiun usai Piala Dunia 2010. Hal itu tentunya disambut positif oleh Liverpool dan membuat rekor bermainnya semakin bertambah. Carra menempati peringkat kedua di bawah Ian Callaghan sebagai pemain yang paling sering memperkuat Liverpool. Total, ia bermain dalam 508 laga dan mencetak empat gol di semua kompetisi sejak 1996 sampai 2013.  Sedangkan Callaghan tampil dalam 640 laga di tahun 1960-1978. Bedanya, Callaghan sempat berpindah-pindah klub setelah hengkang dari Liverpool sebelum akhirnya pensiun pada 1982 sedangkan Carra tetap di Anfield sampai akhir karirnya.

Team of Carragher
Satu hal yang mungkin disesalinya adalah tidak sempat merasakan gelar Liga Primer. Namun hampir semua gelar di tingkat klub sudah pernah dirasakannya, termasuk Piala FA, Piala Liga, Piala UEFA dan Liga Champions. Kenangan tentang Carra tak akan mudah terhapus bukan hanya bagi fans Liverpool tapi juga seluruh penduduk kota pelabuhan tersebut. Sebagian besar anak-anak yang bermain di taman di kota Liverpool saat ini mungkin mengimpikan bisa menjadi pemain hebat seperti Steven Gerrard atau Luis Suarez.

Namun Carra adalah tipe pemain sejati kebanggaan Liverpool karena mencerminkan atmosfer kota mereka: Pemain pekerja keras yang tumbuh dari akademi Liverpool dan mewujudkan mimpinya menjadi pemain besar. Ia adalah Carra, yang berjalan sendiri keluar lapangan saat mengalami patah kaki pada sebuah laga di 2003 dan ia orang yang menjual foto pernikahannya pada laman pendukung Liverpool hanya seharga 1 pounds.

Rafael Benitez pernah mengatakan pada media kalau Carra adalah tipe pemain idealnya dan bahkan mengimpikan punya tim yang semua pemainnya adalah Carra. Komentar Benitez membuat The Kopites membuat lagu khusus untuk Carra, yaitu lagu Yellow Submarine milik The Beatles yang bagian refrainnya diplesetkan menjadi: "We all dreams a team of Carragher/team of Carragher/team of Carragher”.

Well, para fans dan Benitez boleh saja mengimpikan punya banyak pemain seperti Carra, tapi tentu saja hanya ada satu Jamie Carragher. Ia seorang legenda baru dan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Liverpool.

Koleksi Gelar:
Piala FA (2): 2001, 2006
Piala Liga (3): 2001, 2003, 2012
FA Youth Cup(1): 1996
FA Community Shield (2): 2001, 2006
Liga Champions UEFA (1): 2005
Piala UEFA: 2001
Piala Super UEFA (2): 2001, 2005
PFA Team of the Year (1): 2006
Liverpool Player of the Year Award (3): 1999, 2005, 2007

sumber : goal.com