Sabtu, 14 Desember 2013
Ronnie Moran Sang Pengabdi Terlama Di Liverpool
Kopitesside-ID - Tepat 22 November 1952 silam, Ronnie Moran melakukan debutnya bersama
Liverpool. Mereka menghadapi Derby County dalam partai tandang.
Moran sendiri merupakan pria yang mengabdi kepada Liverpool dengan
waktu terlama, baik sebagai pemain, fisioterapis, caretaker serta
manajer, yakni selama 46 tahun. Itu pun belum termasuk saat dia
bergabung dengan The Reds sebagai pemain amatir pada 1949.
Sayang, debutnya sebagai bek tengah tidak berjalan mulus. Liverpool
yang saat itu ditangani Don Welsh harus kalah dengan skor tipis 2-3.
Gol yang diciptakan Billy Liddell dan Jack Smith ternyata tak cukup
untuk mencuri poin sempurna dari Derby County. Padahal, sang lawan
berada di peringkat terbawah Divisi I. Berbeda dengan Liverpool yang
berada di posisi ke-8.
Sejak debut tersebut, Moran hanya tampil 13 kali hingga musim selanjutnya, di mana Liverpool terdegradasi ke Divisi II.
Namun, itu tak membuat Moran pindah ke lain hati. Beberapa musim
selanjutnya, dia justru menjabat sebagai kapten, termasuk saat manajer
legendaris Bill Shankly pertama kali tiba di Anfield. Moran baru
memutuskan untuk undur diri dari Liverpool pada 1998.
Foto Warna Tertua Di Liverpool FC
Kopitesside-ID - Situs Liverpool Echo belum lama ini memuat sebuah foto berwarna yang disebut sebagai foto warna tertua Liverpool.
Foto tersebut milik salah seorang pembaca Echo bernama Kevin
Rathe. Menurutnya, ia menjepret foto tersebut pada musim panas 1960.
Masa itu, sebagian besar kamera masih berteknologi hitam-putih, termasuk
kamera milik kameramen media-media besar.
"Aku sedang berada di Melwood saat para jurnalis foto mengambil foto skuat Liverpool musim itu. Tapi mereka menggunakan kamera hitam-putih. Aku punya kamera berwarna dan bertanya pada Shanks (Bill Shankly, Red.) apakah boleh ikut mengambil foto," cerita Kevin pada Echo.
"Shankly menjawab, 'Tentu saja boleh, Nak. Bisa jadi foto yang kau hasilkan lebih baik dari yang lain.'" Kevin melanjutkan. Dan sepertinya memang begitu.
Foto skuat Liverpool dalam cetakan berwarna pertama kali dirilis secara resmi pada November 1969, yakni saat Liverpool berhadapan degan West Ham United. Ketika itu sesi foto skuat menggunakan teknologi technicolour, sementara sebagian besar koran masih berwarna hitam-putih.
So, foto hasil jepretan Kevin Rathe lebih tua 9 tahun dari foto resmi yang dirilis Liverpool jelang pertandingan versus West Ham tersebut. Dalam foto itu terlihat Liverpool masih memakai seragam lama, yakni atasan kaos merah berleher V-neck putih yang dipadu celana putih dengan strip merah. Oya, kaos kakinya juga masih berwarna putih.
Liverpool sendiri mengganti seragamnya menjadi merah-merah semua 4 tahun setelah Kevin mengambil foto.
Keterangan foto:
Eks pemain Everton Dave Hickson berada di baris kedua dari kanan (duduk), Johnny Morrissey ada di baris yang sama (nomor 2 dari kiri), tepat di sebelahnya adalah Ian Callaghan muda. Legenda Rodger Hunt ada di baris ketiga, berdiri di antara Bobby Campbell dan Gerry Byrne.
Kiper Tommy Lawrence berkaos coklat, lalu nomor 3 di sebelah kirinya adalah legenda Billy Liddell. Di baris paling belakang ada Jimmy Melia (menoleh ke samping), dan di sebelahnya ada Dick White dan Ronnie Moran
"Aku sedang berada di Melwood saat para jurnalis foto mengambil foto skuat Liverpool musim itu. Tapi mereka menggunakan kamera hitam-putih. Aku punya kamera berwarna dan bertanya pada Shanks (Bill Shankly, Red.) apakah boleh ikut mengambil foto," cerita Kevin pada Echo.
"Shankly menjawab, 'Tentu saja boleh, Nak. Bisa jadi foto yang kau hasilkan lebih baik dari yang lain.'" Kevin melanjutkan. Dan sepertinya memang begitu.
Foto skuat Liverpool dalam cetakan berwarna pertama kali dirilis secara resmi pada November 1969, yakni saat Liverpool berhadapan degan West Ham United. Ketika itu sesi foto skuat menggunakan teknologi technicolour, sementara sebagian besar koran masih berwarna hitam-putih.
So, foto hasil jepretan Kevin Rathe lebih tua 9 tahun dari foto resmi yang dirilis Liverpool jelang pertandingan versus West Ham tersebut. Dalam foto itu terlihat Liverpool masih memakai seragam lama, yakni atasan kaos merah berleher V-neck putih yang dipadu celana putih dengan strip merah. Oya, kaos kakinya juga masih berwarna putih.
Liverpool sendiri mengganti seragamnya menjadi merah-merah semua 4 tahun setelah Kevin mengambil foto.
Keterangan foto:
Eks pemain Everton Dave Hickson berada di baris kedua dari kanan (duduk), Johnny Morrissey ada di baris yang sama (nomor 2 dari kiri), tepat di sebelahnya adalah Ian Callaghan muda. Legenda Rodger Hunt ada di baris ketiga, berdiri di antara Bobby Campbell dan Gerry Byrne.
Kiper Tommy Lawrence berkaos coklat, lalu nomor 3 di sebelah kirinya adalah legenda Billy Liddell. Di baris paling belakang ada Jimmy Melia (menoleh ke samping), dan di sebelahnya ada Dick White dan Ronnie Moran
Anfield
Kopitesside-ID - Everton (tim Sepak Bola Kota Liverpool) memenuhi peraturan liga yang
mengharuskan permain dilaksanakan di Stadion tertutup. Sebelumnya
Everton bermain di Lapangan Terbuka Stanley Park. Kemudian Everton
menyewa lapangan Anfield dengan harga murah. Pertandingan pertama
everton di Anfield diadakan pada tanggal 28 September 1884 dimana
Everton membantai Earstown 5-0.
Dalam tahun-tahun berikutnya pemilik Anfield , John Houlding membuat perbaikan fasilitas dengan memberikan tempat duduk . Saat itu kapasitasnya mampu menampung 8000 penonton.
Karena adanya perbaikan ini, John Houlding mengenakan kenaikan sewa kepada Everton sehingga terjadi perselisihan dengan Everton. Perselisihan ini kemudian menyebabkan Everton pindah ke Goodison Park (yang menjadi kandangnya sampai saat ini) dan meninggalkan Anfield kosong.
Terbentuknya Liverpool FC
Karena Anfield sudah tidak berpenghuni, maka John Houlding kemudian membentuk tim Sepak Bola pada Mei 1892 bernama Liverpool FC. Sejak itu Liverpool dan Everton menjadi musuh bebuyutan di Merseyside.
Laga perdana Liverpool dilaksanakan pada 1 September 1892, yaitu pertandingan persahabatan dengan Rotherham Town yang berakhir dengan score 7-1 untuk Liverpool.
Pertandingan kompetitif pertama yang digelar beberapa hari kemudian di Anfield oleh Liverpool FC adalah melawan Higer Walton yang hanya dihadiri 200 penonton dengan kemenangan 8-1 untuk Liverpool. Tetapi tanggal 10 September 1892, Anfield dihadiri oleh lebih dari 3000 orang penonton saat Liverpool menghempaskan Stocton yang saat itu adalah pemimpin klasemenn Liga Lancashire.
Dalam tahun-tahun berikutnya pemilik Anfield , John Houlding membuat perbaikan fasilitas dengan memberikan tempat duduk . Saat itu kapasitasnya mampu menampung 8000 penonton.
Karena adanya perbaikan ini, John Houlding mengenakan kenaikan sewa kepada Everton sehingga terjadi perselisihan dengan Everton. Perselisihan ini kemudian menyebabkan Everton pindah ke Goodison Park (yang menjadi kandangnya sampai saat ini) dan meninggalkan Anfield kosong.
Terbentuknya Liverpool FC
Karena Anfield sudah tidak berpenghuni, maka John Houlding kemudian membentuk tim Sepak Bola pada Mei 1892 bernama Liverpool FC. Sejak itu Liverpool dan Everton menjadi musuh bebuyutan di Merseyside.
Laga perdana Liverpool dilaksanakan pada 1 September 1892, yaitu pertandingan persahabatan dengan Rotherham Town yang berakhir dengan score 7-1 untuk Liverpool.
Pertandingan kompetitif pertama yang digelar beberapa hari kemudian di Anfield oleh Liverpool FC adalah melawan Higer Walton yang hanya dihadiri 200 penonton dengan kemenangan 8-1 untuk Liverpool. Tetapi tanggal 10 September 1892, Anfield dihadiri oleh lebih dari 3000 orang penonton saat Liverpool menghempaskan Stocton yang saat itu adalah pemimpin klasemenn Liga Lancashire.
The Kop
Pada tahun 1906, teras penonton dibuat dan dinamai SPION KOP, mengambil nama sebuah bukit di Natal, Afrika Selatan, yang menjadi ajang pertempuran semasa Perang Boer Kedua. Dibukit ini lebih dari 300 Serdadu Resimen Lancashire Inggris tewas yang kebanyakan berasal dari Liverpool.
Pada tahun 1906, teras penonton dibuat dan dinamai SPION KOP, mengambil nama sebuah bukit di Natal, Afrika Selatan, yang menjadi ajang pertempuran semasa Perang Boer Kedua. Dibukit ini lebih dari 300 Serdadu Resimen Lancashire Inggris tewas yang kebanyakan berasal dari Liverpool.
Pada puncaknya, The Kop pernah ditempati oleh 28,000 orang penonton. Sehinga tahun 1980-an, The Kop tidak dipasangkan tempat duduk. Penonton berdiri untuk menyaksikan dan mendukung pasukan mereka. The Kop menjadi masyur kerana pendukung fanatik Liverpool terkonsentrasi di The Kop. Bahkan menurut cerita mereka dapat menendang bola ke gawang lawan dari The Kop.
Tempat duduk baru dipasangkan setelah tejadinya Tragedi Hillsborough tahun 1989 dimana terdapat regulasi bahwa stadiun harus seluruhnya dilengkapi dengan tempat duduk.
Pemasangan kursi pada The Kop selesai pada tahun 1995. Kapasitas penonton di The Kop sekarang adalah 12,409, dengan 9 tempat yang diperuntukkan bagi penonton yang mempunya keterbatasan (mis. Cacat)
Anfield Road Stand
Pendukung tim lawan di tempatkan di seksi ini. Awalnya, Anfield Road
Stand hanya mempunyai satu baris tempat duduk berteres yang
berwarna-warni. Seksi ini dibangun tahun 1998 sebagai dua bagian tempat
duduk, dan kini dapat memuat 9,074 penonton dengan 2,654 orang penonton
di bagian atas dan 6,391 penonton di bagian bawah serta 29 tempat
untuk mereka yang mempunyai keterbatasan fisik.
Main Stand
Main Stand
Dibuat pada tahun 1895, Main Stand adalah tempat duduk utama di Anfield
dan dapat menampung 3,000 orang penonton. Saat itu, struktur ini dibuat
menggunakan kayu. Walaupun bagian ini disebut Main Stand, namun The
Kop tetap menjadi seksi dimana pendukung fanatik Liverpool berkumpul.
Main Stand adalah bagian pertama yang direnovasi di Anfield yaitu pada
tahun 1973 dan dirasmikan oleh Duke of Kent. Setelah renovasi, Main
Stand dapat menampung sejumlah 12,277 orang penonton, terdiri dari
9,597 orang penonton di tempat duduk utama, 2,409 orang di bahagian
Paddock, 177 di podium Pengarah, 54 orang di podium utama dan ruang
untuk 40 orang dengan keterbatasan fisik.
This is Anfield
This is Anfield
Anfield mempunyai reputasi sebagai sebuah Stadion dan dikenali sebagai
'Fortress Anfield'. Semasa Bill Shankly menjadi pengurus, beliau ingin
mewujudkan satu perang Psikologi kepada pasukan lawan. Ia menempatkan
satu papan tanda "This Is Anfield" pada pintu masuk dari kamar ganti ke
lapangan. Pemain-pemain Liverpool akan menyentuh tanda "This Is
Anfield" ini saat akan masuk lapangan . Papan ini menjadi sesuatu yang
menciutkan nyali lawan Liverpool saat bertanding di Anfield.
• Liverpool tidak pernah kalah di Anfield selama 85 petandingan yaitu antara Januari 1978 hingga Januari 1981. Dalam 85 laga tersebut, Liverpool menjaring 212 gol dan hanya kemasukan 35 gol.
• Liverpool tidak pernah kalah dalam Pertandingan Liga di Anfield dalam musim-musim 1893/94, 1970/71, 1976/77, 1978/79, 1979/80 and 1987/88. Liverpool menang semua pertandingan di Anfield dalam musim 1893/94.
Lain-Lain
• Lampu Sorot dipasang tahun 1957 dengan harga £15,000, pertama kali digunakan dalam pertandingan persahabatan merebut Floodlight Challenge Trophy pada 30 Oktober 1957 menentang Everton. Billy Liddell melesakkan 2 gol dan Liverpool menang 3-2
• Kehadiran penonton tertinggi pada pertandingan liga adalah 68,757 semasa Liverpool melawan Chelsea dalam musim 1949/50.
• 61,905 orang penonton hadir untuk menyaksikan pertandingan Piala F.A putaran ke-4 antara Liverpool dan Wolverhampton Wanderers (Wolves) pada 2 February, 1952.
• Pendapatan ticket paling banyak adalah £496,000 semasa Liverpool melawan Newcastle dalam musim 1995-96.
• Liverpool tidak pernah kalah di Anfield selama 85 petandingan yaitu antara Januari 1978 hingga Januari 1981. Dalam 85 laga tersebut, Liverpool menjaring 212 gol dan hanya kemasukan 35 gol.
• Liverpool tidak pernah kalah dalam Pertandingan Liga di Anfield dalam musim-musim 1893/94, 1970/71, 1976/77, 1978/79, 1979/80 and 1987/88. Liverpool menang semua pertandingan di Anfield dalam musim 1893/94.
Lain-Lain
• Lampu Sorot dipasang tahun 1957 dengan harga £15,000, pertama kali digunakan dalam pertandingan persahabatan merebut Floodlight Challenge Trophy pada 30 Oktober 1957 menentang Everton. Billy Liddell melesakkan 2 gol dan Liverpool menang 3-2
• Kehadiran penonton tertinggi pada pertandingan liga adalah 68,757 semasa Liverpool melawan Chelsea dalam musim 1949/50.
• 61,905 orang penonton hadir untuk menyaksikan pertandingan Piala F.A putaran ke-4 antara Liverpool dan Wolverhampton Wanderers (Wolves) pada 2 February, 1952.
• Pendapatan ticket paling banyak adalah £496,000 semasa Liverpool melawan Newcastle dalam musim 1995-96.
Liverpool XI Terbaik Sepanjang Masa
Kopitesside-ID - Memilih 11 pemain terbaik Liverpool sepanjang masa bukanlah perkara
gampang. Dengan banyaknya pemain bagus yang kemampuannya mendekati
pemain lainnya, tentu pemain yang terpilih haruslah mereka yang beda
dari yang lain.
Apakah Sami Hyypia lebih baik daripada Jamie Carragher di posisi bek tengah? Apakah Steven Gerrard masuk dalam daftar? Di mana Billy Liddell, pemain yang tidak pernah memainkan sepakbola modern, layakkah dia bersanding dengan pemain hebat lainnya? Kalau Anda diminta memilih satu penjaga gawang berdasarkan raihan gelar yang diraihnya, akankah Anda memilih Pepe Reina atau Ray Clemence?
Apakah Sami Hyypia lebih baik daripada Jamie Carragher di posisi bek tengah? Apakah Steven Gerrard masuk dalam daftar? Di mana Billy Liddell, pemain yang tidak pernah memainkan sepakbola modern, layakkah dia bersanding dengan pemain hebat lainnya? Kalau Anda diminta memilih satu penjaga gawang berdasarkan raihan gelar yang diraihnya, akankah Anda memilih Pepe Reina atau Ray Clemence?
Ray Clemence – Penjaga Gawang
Tak ada yang meragukan kehebatan Bruce Grobbleaar dan Pepe Reina dalam mengawal gawang Liverpool. Namun kehebatan keduanya masih kalah dibanding Ray Clemence. Nilai plus Clemence lainnya adalah dia lebih banyak merasakan juara bersama The Reds.
Selama 14 tahun berkarier di Anfield dari 1967 hingga 1981, Clemence membantu timnya meraih lima trofi Charity Shields, lima Divisi Utama, satu Piala Liga, satu Piala FA, satu Liga Super Eropa, tiga Liga Champions, dua Piala UEFA dan satu Piala Super Eropa.
Raihan trofi Grobbleaar bersama Liverpool tak beda jauh dengan Clemence. Bedanya, dia hanya satu kali memenangi Liga Champions, sedangkan Clemence tiga. Sementara Reina belum sekalipun memenangi trofi kompetisi Eropa.
Dalam 665 penampilan untuk Liverpool, Clemence mencatat 335 clean sheets. Prestasi gemilangnya dalam mengawal gawang The Reds terukir di musim 1978/79, di mana dia hanya kebobolan 16 gol. Rekor langka itu baru bisa dipecahkan Chelsea di musim 2004/05 dengan hanya kebobolan 15 gol.
Tak ada yang meragukan kehebatan Bruce Grobbleaar dan Pepe Reina dalam mengawal gawang Liverpool. Namun kehebatan keduanya masih kalah dibanding Ray Clemence. Nilai plus Clemence lainnya adalah dia lebih banyak merasakan juara bersama The Reds.
Selama 14 tahun berkarier di Anfield dari 1967 hingga 1981, Clemence membantu timnya meraih lima trofi Charity Shields, lima Divisi Utama, satu Piala Liga, satu Piala FA, satu Liga Super Eropa, tiga Liga Champions, dua Piala UEFA dan satu Piala Super Eropa.
Raihan trofi Grobbleaar bersama Liverpool tak beda jauh dengan Clemence. Bedanya, dia hanya satu kali memenangi Liga Champions, sedangkan Clemence tiga. Sementara Reina belum sekalipun memenangi trofi kompetisi Eropa.
Dalam 665 penampilan untuk Liverpool, Clemence mencatat 335 clean sheets. Prestasi gemilangnya dalam mengawal gawang The Reds terukir di musim 1978/79, di mana dia hanya kebobolan 16 gol. Rekor langka itu baru bisa dipecahkan Chelsea di musim 2004/05 dengan hanya kebobolan 15 gol.
Phil Neal – Bek Kiri
Selama 11 tahun membela panji Liverpool, Phil Neal total telah mengumpulkan 11 medali juara. Raihan spektakuler itu hanya bisa dilewati sayap kiri Manchester United Ryan Giggs.
Dalam 445 penampilan untuk The Reds, Neal memenangi delapan trofi liga, lima Charity Shields, empat Piala Liga, empat Liga Champions, satu Piala UEFA, dan satu trofi Piala Super Eropa. Dia masih satu-satunya pemain Liverpool yang telah tampil di lima final kompetisi Eropa.
Meski berposisi sebagai bek, Neal cukup produktif dalam urusan mencetak gol. Dia total mencetak 41 gol buat dan salah satunya adalah gol penalti yang membawa Liverpool juara Liga Champions pada 19877. Neal memainkan 417 pertandingan secara beruntun dan rekor itu masih bertahan hingga kini.
Selama 11 tahun membela panji Liverpool, Phil Neal total telah mengumpulkan 11 medali juara. Raihan spektakuler itu hanya bisa dilewati sayap kiri Manchester United Ryan Giggs.
Dalam 445 penampilan untuk The Reds, Neal memenangi delapan trofi liga, lima Charity Shields, empat Piala Liga, empat Liga Champions, satu Piala UEFA, dan satu trofi Piala Super Eropa. Dia masih satu-satunya pemain Liverpool yang telah tampil di lima final kompetisi Eropa.
Meski berposisi sebagai bek, Neal cukup produktif dalam urusan mencetak gol. Dia total mencetak 41 gol buat dan salah satunya adalah gol penalti yang membawa Liverpool juara Liga Champions pada 19877. Neal memainkan 417 pertandingan secara beruntun dan rekor itu masih bertahan hingga kini.
Alan Hansen – Bek Tengah
Alan Hansen merupakan pemain penting bagi Liverpool dari 1977 hingga 1991. Selama 13 tahun membela The Reds, Hansen membantu klubnya meraih delapan trofi liga, tiga Liga Champions, dua Piala FA dan enam Charity Shields.
Bak batu karang, Hansen sangat kuat dalam bertahan. Kepiawaiannya mengawal lini pertahanan membuat frustrasi para penyerang lawan. Meski bernaluri defensif, dia masih bisa menyumbang delapan gol.
Bersama piala dan kemampuannya, Hansen masuk Liverpool XI sepanjang masa untuk kepemimpinannya yang menginspirasi. Dia dipercaya menjadi kapten pada 1986 ketika Liverpool menjadi klub ketiga yang mampu meraih gelar ganda, yaitu Liga Inggris dan Piala FA.
Alan Hansen merupakan pemain penting bagi Liverpool dari 1977 hingga 1991. Selama 13 tahun membela The Reds, Hansen membantu klubnya meraih delapan trofi liga, tiga Liga Champions, dua Piala FA dan enam Charity Shields.
Bak batu karang, Hansen sangat kuat dalam bertahan. Kepiawaiannya mengawal lini pertahanan membuat frustrasi para penyerang lawan. Meski bernaluri defensif, dia masih bisa menyumbang delapan gol.
Bersama piala dan kemampuannya, Hansen masuk Liverpool XI sepanjang masa untuk kepemimpinannya yang menginspirasi. Dia dipercaya menjadi kapten pada 1986 ketika Liverpool menjadi klub ketiga yang mampu meraih gelar ganda, yaitu Liga Inggris dan Piala FA.
Jamie Carragher – Bek Tengah
Siapa yang tak mengakui kehebatan Jami Carragher dalam menghalau serangan lawan. Fans Liverpool pasti sepakat pemain yang memutuskan gantung sepatu di musim 2012/13 kemarin layak masuk Liverpool XI terbaik sepanjang masa.
Carragher sudah memperkuat Liverpool semenjak 1990 saat tergabung dalam tim muda The Reds. Catatan titelnya hampir sama dengan Sami Hyypia. Lahir dan besar di Merseyside, Carragher memulai debutnya di tim utama Liverpool pada 1996. Dia merupakan pemain yang paling banyak membela Liverpool nomor dua setelah Ian Callaghan dengan membukukan 737 penampilan.
Selama 17 tahun membela The Reds, Carragher membantu klub meraih satu gelar Liga Champions edisi 2005, satu Piala FA dan satu Piala Liga pada 2001. Secara keseluruhan dia mengoleksi 10 medali dan memegang rekor sebagai pemain Britannia Raya yang paling banyak tampil di kompetisi Eropa.
Siapa yang tak mengakui kehebatan Jami Carragher dalam menghalau serangan lawan. Fans Liverpool pasti sepakat pemain yang memutuskan gantung sepatu di musim 2012/13 kemarin layak masuk Liverpool XI terbaik sepanjang masa.
Carragher sudah memperkuat Liverpool semenjak 1990 saat tergabung dalam tim muda The Reds. Catatan titelnya hampir sama dengan Sami Hyypia. Lahir dan besar di Merseyside, Carragher memulai debutnya di tim utama Liverpool pada 1996. Dia merupakan pemain yang paling banyak membela Liverpool nomor dua setelah Ian Callaghan dengan membukukan 737 penampilan.
Selama 17 tahun membela The Reds, Carragher membantu klub meraih satu gelar Liga Champions edisi 2005, satu Piala FA dan satu Piala Liga pada 2001. Secara keseluruhan dia mengoleksi 10 medali dan memegang rekor sebagai pemain Britannia Raya yang paling banyak tampil di kompetisi Eropa.
Steve Nicol – Bek Kanan
Steve Nicol merupakan bagian dari kejayaan Liverpool di era 1980-an. Selama 13 tahun memperkuat The Reds, Nicol membantu klub meraih liga gelar Piala FA, empat Charity Shields dan Liga Champions edisi 1984. Dia total mencetak 46 gol dari 468 penampilan.
Nicol merupakan suksesor Phil Neal di sisi sayap kanan. Kemampuannya dalam bertahan membuat pertahanan Liverpool sulit ditembus dan menggaransi keamanan bagi penjaga gawang.
Pemain yang akrab disapa Chico itu tergolong pemain serba bisa. Dia bisa bermain di posisi bek kiri dengan sama baiknya. Kemampuannya itu pun membuatnya diganjar dengan piala individual Pemian Terbaik 1898 oleh Asosiasi Jurnalis Sepakbola Inggris [FWA].
Steve Nicol merupakan bagian dari kejayaan Liverpool di era 1980-an. Selama 13 tahun memperkuat The Reds, Nicol membantu klub meraih liga gelar Piala FA, empat Charity Shields dan Liga Champions edisi 1984. Dia total mencetak 46 gol dari 468 penampilan.
Nicol merupakan suksesor Phil Neal di sisi sayap kanan. Kemampuannya dalam bertahan membuat pertahanan Liverpool sulit ditembus dan menggaransi keamanan bagi penjaga gawang.
Pemain yang akrab disapa Chico itu tergolong pemain serba bisa. Dia bisa bermain di posisi bek kiri dengan sama baiknya. Kemampuannya itu pun membuatnya diganjar dengan piala individual Pemian Terbaik 1898 oleh Asosiasi Jurnalis Sepakbola Inggris [FWA].
Billy Liddel – Gelandang Kanan
Sangat sulit memang mengetahui kemampuan dari sosok Billy Liddel. Tak seperti pemain lainnya yang masuk dalam daftar, kita tidak bisa melihat aksi sang pemain. Namun begitu, dia masih merupakan salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah The Reds.
Dalam karier sepakbolanya yang dimulai saat Perang Dunia II meletus, Liddel menandatangani kontrak pertama bersama Liverpool pada 1938 dengan gaji £3 per pekan. Menyusul ditundanya liga akibat perang dunia, Liddel baru membuat debut resminya untuk Liverpool apda 1945.
Selama 17 tahun membela The Reds, Liddel total membukukan 534 penampilan dan mencetak 228 gol. Dia merupakan pencetak gol keempat terbanyak dalam sejarah Liverpool. Kendati sangat klinis di depan gawang, Liddel hanya memenangi satu trofi liga dan Piala FA.
Meski sulit membayangkan kemampuan Liddel di sepakboa modern, dia tetap pantas masuk daftar 11 skuat terbaik Liverpool sepanjang masa. Bentuk tubuhnya yang atletis, kecepatan, dan kemampuannya bermain di banyak posisi menjadi modal untuk tim mana pun di era mana pun.
Sangat sulit memang mengetahui kemampuan dari sosok Billy Liddel. Tak seperti pemain lainnya yang masuk dalam daftar, kita tidak bisa melihat aksi sang pemain. Namun begitu, dia masih merupakan salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah The Reds.
Dalam karier sepakbolanya yang dimulai saat Perang Dunia II meletus, Liddel menandatangani kontrak pertama bersama Liverpool pada 1938 dengan gaji £3 per pekan. Menyusul ditundanya liga akibat perang dunia, Liddel baru membuat debut resminya untuk Liverpool apda 1945.
Selama 17 tahun membela The Reds, Liddel total membukukan 534 penampilan dan mencetak 228 gol. Dia merupakan pencetak gol keempat terbanyak dalam sejarah Liverpool. Kendati sangat klinis di depan gawang, Liddel hanya memenangi satu trofi liga dan Piala FA.
Meski sulit membayangkan kemampuan Liddel di sepakboa modern, dia tetap pantas masuk daftar 11 skuat terbaik Liverpool sepanjang masa. Bentuk tubuhnya yang atletis, kecepatan, dan kemampuannya bermain di banyak posisi menjadi modal untuk tim mana pun di era mana pun.
Steven Gerrard – Gelandang Tengah
Sulit untuk tak memasukkan Steven Gerrard ke dalam daftar 11 skuat terbaik Liverpool sepanjang masa. Salah satu pesepakbola terbaik dan produk generasi emas, Stevie G telah dinominasikan beberapa kali untuk Ballon d’Or dan Pemain Terbaik FIFA. Dia finis ketiga untuk Ballon d’Or edisi 2005.
Untuk klub, Gerrard merupakan bagian dari tim fantastis Liverpool musim 200/01 yang memenangi Piala Liga dan Piala FA, runner-up liga dan Piala UEFA. Pada 2005, dia merupakan pemain kunci saat Liverpool menjuarai Liga Champions dengan mencetak 13 gol.
Secara total, Gerard telah mencetak 159 gol dari 629 penampilan dan dipercaya menjadi kapten tim. Permainanannya telah berubah dari yang dulunya agresif menjadi lebih kepada mengontrol permainan. Namun itu tak mengurangi pengaruhnya dalam permainan.
Masih mencari trofi Liga Primer Inggris pertamanya bersama Liverpool, Gerrard tak diragukan lagi merupakan ikon Liverpool dan lebih dari pantas untuk mendapatkan satu tempat di 11 skuat terbaik The Reds.
Sulit untuk tak memasukkan Steven Gerrard ke dalam daftar 11 skuat terbaik Liverpool sepanjang masa. Salah satu pesepakbola terbaik dan produk generasi emas, Stevie G telah dinominasikan beberapa kali untuk Ballon d’Or dan Pemain Terbaik FIFA. Dia finis ketiga untuk Ballon d’Or edisi 2005.
Untuk klub, Gerrard merupakan bagian dari tim fantastis Liverpool musim 200/01 yang memenangi Piala Liga dan Piala FA, runner-up liga dan Piala UEFA. Pada 2005, dia merupakan pemain kunci saat Liverpool menjuarai Liga Champions dengan mencetak 13 gol.
Secara total, Gerard telah mencetak 159 gol dari 629 penampilan dan dipercaya menjadi kapten tim. Permainanannya telah berubah dari yang dulunya agresif menjadi lebih kepada mengontrol permainan. Namun itu tak mengurangi pengaruhnya dalam permainan.
Masih mencari trofi Liga Primer Inggris pertamanya bersama Liverpool, Gerrard tak diragukan lagi merupakan ikon Liverpool dan lebih dari pantas untuk mendapatkan satu tempat di 11 skuat terbaik The Reds.
Grame Souness – Gelandang Tengah
Persis seperti Steven Gerrard, Graeme Souness merupakan bintang di lini tengah Liverpool dan sangat pantas masuk dalam daftar ini.
Selama memperkuat Liverpool dari 1977-1984, Sounesss total mencetak 55 gol, dan memenangi lima gelar liga, tiga Liga Champions dan empat Piala Liga.
Diplot sebagai pengganti Ian Callaghan, Souness langsung mencuri hati Liverpudlian di tahun pertamanya ketika gol sepakan volinya mengalahkan musuh bebuyutan Manchester United.
Lebih dikenal untuk distribusinya, Souness memiliki visi luar bisa dan sentuhan ajaib. Meski dia tak mampu berbuat banyak sebagai pelatih, Liverpudlian selalu mengenanya untuk permainannya yang enak ditonton di atas lapangan.
Persis seperti Steven Gerrard, Graeme Souness merupakan bintang di lini tengah Liverpool dan sangat pantas masuk dalam daftar ini.
Selama memperkuat Liverpool dari 1977-1984, Sounesss total mencetak 55 gol, dan memenangi lima gelar liga, tiga Liga Champions dan empat Piala Liga.
Diplot sebagai pengganti Ian Callaghan, Souness langsung mencuri hati Liverpudlian di tahun pertamanya ketika gol sepakan volinya mengalahkan musuh bebuyutan Manchester United.
Lebih dikenal untuk distribusinya, Souness memiliki visi luar bisa dan sentuhan ajaib. Meski dia tak mampu berbuat banyak sebagai pelatih, Liverpudlian selalu mengenanya untuk permainannya yang enak ditonton di atas lapangan.
John Barnes – Gelandang Kiri
John Barnes merupakan salah satu sayap terbaik yang pernah dimiliki Liverpool. Piawai mengecoh lawan dan bertenaga kuda. Kinerjanya di atas pemain-pemain lainnya.
Pria kelahiran Jamaika ini total membukukan 407 penampilan dan mencetak 108 gol untuk The Reds. Musim terbaiknya terukir di 1989/90, di mana dia mampu melesakkan total 28 gol. Torehan gol fantastis bagi seorang pemain sayap.
Meski tak pernah mengenyam juara di kompetisi Eropa, Barnes mengakhiri 11 tahun kariernya di Anfield dengan catatan mentereng: dua gelar Liga Primer Inggris, dua Piala FA, tiga Charity Shield, dan satu Piala Liga.
John Barnes merupakan salah satu sayap terbaik yang pernah dimiliki Liverpool. Piawai mengecoh lawan dan bertenaga kuda. Kinerjanya di atas pemain-pemain lainnya.
Pria kelahiran Jamaika ini total membukukan 407 penampilan dan mencetak 108 gol untuk The Reds. Musim terbaiknya terukir di 1989/90, di mana dia mampu melesakkan total 28 gol. Torehan gol fantastis bagi seorang pemain sayap.
Meski tak pernah mengenyam juara di kompetisi Eropa, Barnes mengakhiri 11 tahun kariernya di Anfield dengan catatan mentereng: dua gelar Liga Primer Inggris, dua Piala FA, tiga Charity Shield, dan satu Piala Liga.
Kenny Dalglish – Penyerang
Kenny Dalglish lebih dari layak untuk masuk dalam Liverpool XI sepanjang masa. Tak banyak striker yang memiliki kemampuan komplet seperti pemain berjuluk King Kenny ini.
Selama 13 tahun kariernya di Liverpool yang gilang-gemilang, Dalglish total melesakkan 172 gol dalam 515 penampilan. Torehan yang cukup impresif, yang menjadikannya masuk enam besar daftar pencetak gol terbanyak The Reds sepanjang masa.
Trofi-trofi mayor yang pernah dimenangi pemain asal Skotlandia ini antara lain, enam gelar Liga Primer Inggris, empat Piala Liga, tiga Liga Champions dan lima Charity Shields. Kecerdasan pengetahuannya pada permainan membuatnya meraih sukses ketika dipercaya menjadi manajer The Reds.
Kenny Dalglish lebih dari layak untuk masuk dalam Liverpool XI sepanjang masa. Tak banyak striker yang memiliki kemampuan komplet seperti pemain berjuluk King Kenny ini.
Selama 13 tahun kariernya di Liverpool yang gilang-gemilang, Dalglish total melesakkan 172 gol dalam 515 penampilan. Torehan yang cukup impresif, yang menjadikannya masuk enam besar daftar pencetak gol terbanyak The Reds sepanjang masa.
Trofi-trofi mayor yang pernah dimenangi pemain asal Skotlandia ini antara lain, enam gelar Liga Primer Inggris, empat Piala Liga, tiga Liga Champions dan lima Charity Shields. Kecerdasan pengetahuannya pada permainan membuatnya meraih sukses ketika dipercaya menjadi manajer The Reds.
Ian Rush – Penyerang
Tak ada yang meragukan kemampuan Robbie Fowler di depan gawang lawan. Pun dengan Michael Owen. Tapi siap yang bisa membantah kehebatan Ian Rush?
Simak saja torehan golnya. Pemain asal Wales itu total melesakkan 346 gol yang diciptakannya dalam 660 penampilan. Koleksi golnya itu menjadikannya pencetak gol terbanyak Liverpool sepanjang masa. Salah satu anggota generasi emas Liverpool di era 1980-an ini meraih lima trofi Divisi Satu, tiga Piala FA, lima Piala Liga, lima Charity Shields dan dua trofi bergengsi Liga Champions.
Yang membuatnya beda dengan Fowler tak hanya dari jumlah gol yang dia lesakkan tapi nalurinya mencetak gol. Hanya sedikit pemain yang lebih fokus membuat dampak dan berhasil dibanding Rush, yang membuatnya berada di depan striker The Reds lainnya.
Melihat Rush berduet dengan King Kenny sangat menakutkan, dan itu mungkin masih akan demikian jika keduanya bermain bareng saat ini.
Tak ada yang meragukan kemampuan Robbie Fowler di depan gawang lawan. Pun dengan Michael Owen. Tapi siap yang bisa membantah kehebatan Ian Rush?
Simak saja torehan golnya. Pemain asal Wales itu total melesakkan 346 gol yang diciptakannya dalam 660 penampilan. Koleksi golnya itu menjadikannya pencetak gol terbanyak Liverpool sepanjang masa. Salah satu anggota generasi emas Liverpool di era 1980-an ini meraih lima trofi Divisi Satu, tiga Piala FA, lima Piala Liga, lima Charity Shields dan dua trofi bergengsi Liga Champions.
Yang membuatnya beda dengan Fowler tak hanya dari jumlah gol yang dia lesakkan tapi nalurinya mencetak gol. Hanya sedikit pemain yang lebih fokus membuat dampak dan berhasil dibanding Rush, yang membuatnya berada di depan striker The Reds lainnya.
Melihat Rush berduet dengan King Kenny sangat menakutkan, dan itu mungkin masih akan demikian jika keduanya bermain bareng saat ini.
Rabu, 11 Desember 2013
William "Bill" Shankly
Bill Shankly
Nama Lengkap : William Shankly
Lahir : Glenbuck (Skotlandia), 2 September 1913
Meninggal : September 1981
Karier pemain : Carlisle United (1932-1933), Perston North End (1933-1949)
Karier pelatih : Carlisle United (1949-1951), Grimsby Town (1951-1953), Workington (1954-1955), Huddersfield Town (1955-59), Liverpool (1959-1974)
Prestasi : 3 Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA
Nama Lengkap : William Shankly
Lahir : Glenbuck (Skotlandia), 2 September 1913
Meninggal : September 1981
Karier pemain : Carlisle United (1932-1933), Perston North End (1933-1949)
Karier pelatih : Carlisle United (1949-1951), Grimsby Town (1951-1953), Workington (1954-1955), Huddersfield Town (1955-59), Liverpool (1959-1974)
Prestasi : 3 Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA
“A football team is like a piano. You need eight men to carry it and three who can play the damn thing.”
"football is beyond life and death"
“Some people believe football is a matter of life and death, I am very
disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more
important than that.”
-Shankly
Kopitesside-id - Banyak orang yang mengira sepak bola adalah persoalan hidup dan mati.
Saya sungguh kecewa. Sepak bola jauh lebih besar dari sekadar urusan
hidup dan mati.”
Ada perasaan aneh saat mendengar statemen tersebut. Logika normal seolah berontak. Bagaimana mungkin persoalan hidup dan mati menjadi seekor "semut" jika dibandingkan dengan sepak bola. Jangan pernah mengkritisi statemen tersebut kepada seorang Bill Shankly. Wajahnya bakal berkerut, lalu dengan meledak-ledak berargumentasi. Bagi Shankly, keyakinan itu sudah terbatinkan. Football is everything. Sebanding dengan agama. Baginya, sepak bola harus disikapi secara total dan maksimal.
Penikmat sepak bola yang relatif baru mungkin jarang mendengar Bill
Shankly. Telinga akan lebih akrab mendengar nama Sir Alex Fergusson atau
juga Arsene Wenger. Tanpa bermaksud menyepelekan Fergie atau Wenger,
berdasarkan poling TEAMtalk dan World Soccer 2001, Shankly merupakan
pelatih paling legendaris di Britania Raya. Mengungguli 2 nama pelatih
besar tersebut.
Ada perasaan aneh saat mendengar statemen tersebut. Logika normal seolah berontak. Bagaimana mungkin persoalan hidup dan mati menjadi seekor "semut" jika dibandingkan dengan sepak bola. Jangan pernah mengkritisi statemen tersebut kepada seorang Bill Shankly. Wajahnya bakal berkerut, lalu dengan meledak-ledak berargumentasi. Bagi Shankly, keyakinan itu sudah terbatinkan. Football is everything. Sebanding dengan agama. Baginya, sepak bola harus disikapi secara total dan maksimal.
Pencinta Liverpool memujanya seperti malaikat. Dia dianggap sebagai pelatih terbesar. Selama membesut "The Reds" dari 1959 hingga 1974, Shankly telah menghadiahi pendukung Liverpool 3 gelar Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA.
Harap dicatat, bukan raihan gelar itu yang membuat pendukung Liverpool rela mendirikan monumen untuk mengenang Shankly. Pria yang meninggal pada 1981 tersebut dianggap sebagai peletak fondasi kebesaran Liverpool.
Saat kali pertama ditunjuk menjadi pelatih Liverpool oleh TV Williams—Presiden Liverpool kala itu—pada 1959, Shankly punya PR besar. Selain terpuruk di Divisi II, kondisi Liverpool sangat parah. Lapangan becek, tribun penonton reot, dan kamar ganti pemain amburadul. Reformasi total pun dilaksanakan Shankly. Shankly tak hanya berhasil menuntaskan problem internal. Dia juga sukses memberikan sederet pundi-pundi gelar, baik di kancah lokal atau Eropa, sekaligus memberikan dasar-dasar yang kuat bagi para penerus. Keberhasilan Bob Paisley pada era 1980-an, juga berkat jasanya.
KAMPIUN BRITANIA RAYA
Bill Shankly lahir pada 1913 di daerah pertambangan Glenbuck, Skotlandia. Suatu kawasan yang sangat menggemari sepak bola, selain politik tentunya. Sepak bola merupakan alasan untuk hidup. Pada periode 1890-1940, daerah Glenbuck telah menelurkan lebih dari 50 pebola profesional.
Shankly tumbuh seperti rekan-rekan sebayanya. Bekerja sebagai tukang tambang 6 hari seminggu. Hanya menyisakan Sabtu malam untuk bersosialisasi dan hari Minggu untuk bermain bola. Sangat membosankan.
Sepak bola sudah menjadi jalan hidup bagi Shankly untuk meretas kebebasan. Pada 1932, dia bergabung dengan Carlisle United dan beberapa tahun kemudian pindah ke Preston North End Club. Shankly tercatat pernah memperkuat timnas Skotlandia sebanyak 7 kali. Saat menginjak umur 33 tahun, pria berkarakter keras ini memutuskan gantung sepatu.
Karier kepelatihannya diretas dengan membesut Carlisle, kemudian berlanjut ke klub yang lebih besar seperti Grimbsy, Workington, dan Huddersfield. Fase paling penting pada 1959. Dia diberi kepercayaan oleh Presiden Liverpool, TV Williams, untuk membenahi "The Reds". Tugas yang sangat berat. Kondisi Liverpool saat itu compang-camping dan terpuruk di Divisi II.
Revolusi dijalankan. Untuk pola permainan, Shankly memperkenalkan ilmunya yang kemudian melegenda, the five-a-side games atau passing game. Menurut Shankly, sebenarnya sepak bola itu sederhana, yakni seni mengumpan dan bergerak. Yang diperlukan adalah kecerdasan berpikir untuk mengumpan dan mencari ruang untuk menerima umpan. Intinya, Shankly menekankan para pemainnya untuk menggunakan otak dalam bermain.
Pembenahan kedua, Shankly meminta agar tempat latihan di Melwood dipugar. Shankly punya cara paten untuk membentuk kesolidan tim. Dia mewajibkan semua pemain berkumpul di Anfield untuk kemudian berbarengan naik bus ke Melwood. Seusai latihan, para pemain kembali diwajibkan untuk balik dulu ke Anfield bersama-sama.
Shankly juga menanamkan filosofi penting untuk para pemainnya. "If you are first you are first. If you are second, you are nothing." Maksudnya, tak ada kamus untuk kalah. "The Reds" harus selalu yang nomor satu. Pelatuk yang ia canangkan saat itu, menggusur dominasi rival sekota (Everton) dan menjadikan "The Reds" sebagai klub nomor satu di Liverpool.
Hasilnya ciamik. Dalam empat musim, "The Reds" dia angkat kembali promosi ke Divisi Utama. Tak tanggung-tanggung, begitu naik ke Divisi Utama musim 1963-64, tahta jawara langsung direbut. Setahun berikutnya, untuk pertama kalinya Liverpool merengkuh Piala FA. Level Eropa juga dikangkangi dengan merebut Piala UEFA 1973.

Pada masa besutannya, Liverpool memasuki era gilang-gemilang. Tahun 1974, saat umurnya menginjak 61 tahun, Shankly memutuskan pensiun. Bukan terlalu dini. Dia sudah membawa banyak kebesaran buat Liverpool. Sukses yang lahir berkat filosofinya: sepak bola bukan sekadar hidup dan mati.
“If you are first you are first. If you are second you are nothing.”
“If you can’t support us when we lose or draw , don’t support us when we win”
YNWA SHANKS
Thanks...
“If you can’t support us when we lose or draw , don’t support us when we win”
YNWA SHANKS
Thanks...
Selasa, 10 Desember 2013
Hall Of Fame
Kopitesside-id - Liverpool FC tidak akan menjadi klub
yang ada sekarang ini tanpa
komitmen dan semangat dari tiap pemain yang pernah mengenakan seragam
merah legendaris dan tiap manajer yang pernah menempati Anfield dug-out
yang terkenal.
Tetapi, walaupun kesuksesan Liverpool selalu didasari oleh prinsip
kerjasama tim, ada beberapa individu yang akan selalu dikenang dan
dikenal atas kontribusinya untuk Liverpool FC.
Berikut ini adalah 15 anggota pertama dari International Hall of Fame LFC...
Ian Rush - Striker LFC, 1980-1996
Hanya satu kata yang dapat menjabarkan
karir Ian Rush di Liverpool: Gol. Pemain asal Wales ini mencetak 346 gol
dari 660 penampilan, sebuah rekor klub yang sangat sulit dilampaui.
Tidak ada yang dapat mengguncang the Kop lebih daripada sebuah gol, dan Rush adalah orang yang dapat menyebabkan 'kerusakan' pada tribun legendaris tersebut. Terlebih lagi, instingnya dalam mencetak gol memainkan peranan penting bagi the Reds dalam mendominasi permainan sepanjang dekade 1980an. Di Anfield, ia sangat dicintai. Di Eropa, ia menjadi sosok yang sangat ditakuti dan disegani.
Tidak ada yang dapat mengguncang the Kop lebih daripada sebuah gol, dan Rush adalah orang yang dapat menyebabkan 'kerusakan' pada tribun legendaris tersebut. Terlebih lagi, instingnya dalam mencetak gol memainkan peranan penting bagi the Reds dalam mendominasi permainan sepanjang dekade 1980an. Di Anfield, ia sangat dicintai. Di Eropa, ia menjadi sosok yang sangat ditakuti dan disegani.
Bob Paisley - Manajer LFC, 1974-1983
20 trofi dalam 9 musim - tidak buruk bagi seseorang yang bahkan tidak ingin untuk menjadi manajer Liverpool FC.
Mengikuti jejak legendaris Bill Shankly adalah tugas yang mustahil bagi banyak orang, tetapi Paisley mampu menunjukkan taringnya. Pencapaiannya dalam waktu yang sangat singkat sebagai manajer - termasuk memenangkan 3 Piala Champions - tidak dapat diremehkan, atau dilampaui. Tidak diragukan lagi, di dunia sepakbola ia dikenal sebagai sang Manager of the Millenium.
Mengikuti jejak legendaris Bill Shankly adalah tugas yang mustahil bagi banyak orang, tetapi Paisley mampu menunjukkan taringnya. Pencapaiannya dalam waktu yang sangat singkat sebagai manajer - termasuk memenangkan 3 Piala Champions - tidak dapat diremehkan, atau dilampaui. Tidak diragukan lagi, di dunia sepakbola ia dikenal sebagai sang Manager of the Millenium.
Ian Callaghan - Pemain Tengah LFC, 1960-1978
Tidak ada seorangpun yang pernah bermain
untuk Liverpool melebihi Ian Callaghan. Kemungkinannya: tidak akan
pernah ada. Cally mengenakan lambang Liver bird di dadanya sebanyak 857
kali selama 18 tahun karirnya di klub ini. Tidak ada panutan yang lebih
baik bagi para pemain baru dari seorang pemain tengah yang tindakannya
melambangkan segala sesuatu yang baik dari sepakbola itu sendiri.
Pria sejati kelahiran Toxteth ini adalah satu-satunya pemain yang bertahan sejak Liverpool masih berada di Divisi Dua, hingga akhirnya menapaki puncak sepakbola Eropa. Sepanjang perjalanannya, ia mendapatkan tiap penghargaan yang ada, termasuk penghargaan tertinggi dari rekan-rekannya dan dari para fans, serta ia hanya sekali mendapatkan kartu peringatan.
Pria sejati kelahiran Toxteth ini adalah satu-satunya pemain yang bertahan sejak Liverpool masih berada di Divisi Dua, hingga akhirnya menapaki puncak sepakbola Eropa. Sepanjang perjalanannya, ia mendapatkan tiap penghargaan yang ada, termasuk penghargaan tertinggi dari rekan-rekannya dan dari para fans, serta ia hanya sekali mendapatkan kartu peringatan.
Kenny Dalglish - Pemain dan Manajer LFC, 1977-1991 and 2011-2012
Hanya akan ada satu Raja dan tokoh yang
berhak duduk di singgasana Anfield, dan orang tersebut adalah Kenneth
Mathieson Dalglish. Dengan tangan dinginnya dan pengetahuan
sepakbolanya, King Kenny dihormati oleh Liverpudlian sebagai pemain terbesar yang pernah bermain untuk Liverpool.
Sebelum ia bergabung di bulan Agustus 1977, tim asuhan Bob Paisley terlihat sangat kesulitan saat meraih Piala Champions pertamanya. Tetapi dengan adanya sosok influensial seperti Dalgish di dalam tim, 13 tahun berikutnya menjadi tahun-tahun yang terbaik bagi Liverpool FC. Sebagai pemain yang bertalenta, apa yang ia capai sebagai manajer Liverpool menegaskan status legendarisnya dengan memberi dua gelar di tahun 1986, diikuti dengan titel Liga Inggris tahun 1988 dan 1990, ditambah lagi dengan Piala FA dari all-Merseyside final di tahun 1989.
Sebelum ia bergabung di bulan Agustus 1977, tim asuhan Bob Paisley terlihat sangat kesulitan saat meraih Piala Champions pertamanya. Tetapi dengan adanya sosok influensial seperti Dalgish di dalam tim, 13 tahun berikutnya menjadi tahun-tahun yang terbaik bagi Liverpool FC. Sebagai pemain yang bertalenta, apa yang ia capai sebagai manajer Liverpool menegaskan status legendarisnya dengan memberi dua gelar di tahun 1986, diikuti dengan titel Liga Inggris tahun 1988 dan 1990, ditambah lagi dengan Piala FA dari all-Merseyside final di tahun 1989.
Graeme Souness - Pemain Tengah LFC, 1978-1984
Seorang pesepakbola dengan kepiawaian
pemain biola - itulah bagaimana seseorang mendeskripsikan Graeme
Souness. Ia adalah seorang pemain tengah yang memiliki keberanian luar
biasa dengan sentuhan yang sangat halus. Souness turut serta membawa 15
trofi ke Anfield selama enam tahun karirnya di klub, dan menjadi salah
satu dari empat kapten the Reds yang mengangkat Piala Champions.
Di puncak karirnya, sang 'Emperor of Anfield' ini dipandang sebagai seorang pemain tengah serba bisa, dan penghargaan ini tidak berubah meski ia tidak berhasil sebagai manajer.
Di puncak karirnya, sang 'Emperor of Anfield' ini dipandang sebagai seorang pemain tengah serba bisa, dan penghargaan ini tidak berubah meski ia tidak berhasil sebagai manajer.
Albert Stubbins - Striker LFC, 1946-1953
Penyerang tengah Albert Stubbins adalah
salah satu pemain Liverpool yang sangat terkenal setelah Perang Dunia
Kedua. Ia telah menjadi pemain yang subur dan berpengalaman ketika
bergabung dari Newcastle tahun 1946, ia mencetak 232 gol di 190
pertandingannya semasa era Perang Dunia. Gol pertamanya ia ciptakan di
kandang Bolton dan mengakhiri musim sebagai Juara Liga Championship
serta menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 24 gol.
Secara keseluruhan, ia tampil sebanyak 178 kali bersama tim utama dan mengakhiri karirnya di Merseyside dengan mengemas total 83 gol.
Secara keseluruhan, ia tampil sebanyak 178 kali bersama tim utama dan mengakhiri karirnya di Merseyside dengan mengemas total 83 gol.
Robbie Fowler - Striker LFC, 1992-2001 and 2006-2007
Ditahbiskan sebagai 'God' oleh the Kop,
Robbie Fowler adalah salah satu pemain yang sangat dicintai dalam
sejarah Anfield. Sebagai Evertonian di masa kecilnya, ia mencetak
debutnya di pertandingan Piala Liga melawan Fulham, sebelum kemudian
penonton dan pundit dibuat kagum dengan 5 golnya sekaligus pada leg
kedua di Anfield. Ditambah dengan hat-trick tercepat dalam sejarah Liga
Premier ketika melawan Arsenal, ia berubah dari seorang pemain yang
menjanjikan - menjadi seorang superstar di musim pertamanya.
Kepopuleran Fowler di antara fans menyamai Kenny Dalglish, dan dirinya menjadi sosok yang penting bagi Liverpool dalam memenangkan Treble di tahun 2001.
Kepopuleran Fowler di antara fans menyamai Kenny Dalglish, dan dirinya menjadi sosok yang penting bagi Liverpool dalam memenangkan Treble di tahun 2001.
Phil Neal - Pemain Belakang LFC, 1974-1985
Phil Neal adalah pemain dengan gelar juara
terbanyak dalam sejarah Liverpool. Pada kenyataannya, tidak ada seorang
pemain Inggris yang dapat meraih medali sebanyak dirinya. Bek tangguh
ini turut serta membawa 22 piala ke dalam ruang trofi Anfield serta
menjadi satu-satunya pemain Liverpool yang membawa timnya memenangkan
empat Piala Champions.
Julukan 'Mr Consistency' melekat erat pada dirinya selama ia bermain untuk Liverpool. Ditarik dari tim Divisi Empat dengan nilai kontrak sebesar £66,000 di bulan Oktober 1974, mantan pemain Northampton Town ini adalah pilihan pertama Bob Paisley dan terbukti menjadi yang paling berkesan. Ia meninggalkan Anfield dengan setumpuk medali, termasuk 4 Piala Champions, 8 titel Liga Inggris, 4 Piala Liga dan satu Piala UEFA.
Julukan 'Mr Consistency' melekat erat pada dirinya selama ia bermain untuk Liverpool. Ditarik dari tim Divisi Empat dengan nilai kontrak sebesar £66,000 di bulan Oktober 1974, mantan pemain Northampton Town ini adalah pilihan pertama Bob Paisley dan terbukti menjadi yang paling berkesan. Ia meninggalkan Anfield dengan setumpuk medali, termasuk 4 Piala Champions, 8 titel Liga Inggris, 4 Piala Liga dan satu Piala UEFA.
Bill Shankly - Manajer LFC, 1959-1974
Bill Shankly adalah figur yang terpopuler
dalam sejarah Liverpool FC. Sebagai seseorang yang kharismatik, ia
menyadari mimpinya dalam mengubah klub ini menjadi kekuatan yang paling
dominan di persepakbolaan Inggris. Semangatnya terpancar dari awal
sejarah LFC berdiri.
Namanya bersinonim dengan pengertian 'the Liverpool way', warisannya telah menguasai Eropa sebanyak lima kali dan memonopoli kompetisi domestik selama lebih dari dua dekade. Sampai hari ini, semangat dari seseorang yang menjuarai Piala FA pertama bagi Liverpool di tahun 1965 tetap jaya di Anfield, dimana patungnya berdiri di depan the Kop yang ia cintai dan Shankly Gates dengan menyandang kata-kata yang abadi, 'You'll Never Walk Alone'.
Namanya bersinonim dengan pengertian 'the Liverpool way', warisannya telah menguasai Eropa sebanyak lima kali dan memonopoli kompetisi domestik selama lebih dari dua dekade. Sampai hari ini, semangat dari seseorang yang menjuarai Piala FA pertama bagi Liverpool di tahun 1965 tetap jaya di Anfield, dimana patungnya berdiri di depan the Kop yang ia cintai dan Shankly Gates dengan menyandang kata-kata yang abadi, 'You'll Never Walk Alone'.
John Barnes - Pemain Tengah LFC, 1987-1997
Tidak ada pemandangan yang lebih indah di
dalam sepakbola seperti kemegahan John Barnes ketika menyusuri sisi
lapangan. Datang ke Liverpool bersama dengan penyerang yaitu John
Aldridge dan Peter Beardsley, Barnes adalah gabungan sempurna dari
keahlian dan kekuatan. Kaki kirinya telah menjatuhkan banyak tim,
sepanjang Liverpool membawa sepakbola Inggris ke tingkatan yang lebih
tinggi dengan membukukan rekor 29 pertandingan tanpa kekalahan, dan
mengamankan titel Liga ke-17.
Tidak mengejutkan jika ia meraih gelar Pemain Terbaik di tahun 1987-88. Kualitas yang ia miliki telah membawanya ke bagian sejarah Liverpool yang terbaik - seperti yang pernah dikatakan oleh Bob Paisley, seragam No.7 akan selalu melekat dengan Kenny Dalglish, demikian juga seragam No.10 akan menjadi milik Barnes selamanya
Tidak mengejutkan jika ia meraih gelar Pemain Terbaik di tahun 1987-88. Kualitas yang ia miliki telah membawanya ke bagian sejarah Liverpool yang terbaik - seperti yang pernah dikatakan oleh Bob Paisley, seragam No.7 akan selalu melekat dengan Kenny Dalglish, demikian juga seragam No.10 akan menjadi milik Barnes selamanya
Joe Fagan - Manajer LFC, 1983-1985
Sebagai pekerja yang efektif dan pendiam
di belakang layar, naiknya Joe Fagan ke singgasana Anfield adalah
sesuatu yang logis - setelah ia menempati posisi di bawah Bob Paisley
ketika Bill Shankly mundur tahun 1974.
Bukanlah tugas yang mudah untuk mengikuti Paisley dan sederet trofi yang diraih selama masa jabatannya, tetapi bagi Fagan hal tersebut adalah sebuah tantangan. Ia berhasil memimpin the Reds menuju treble Liga Inggris, Piala Champions dan Piala Liga.
Di bawah Fagan, the Reds bermain dengan tenang, mengukur efisiensi, dengan tiap bagian berfungsi dalam keseimbangan dan keharmonisan. Ia meninggal dunia pada bulan Juli 2001 di usia 80 tahun, tetapi Joe akan selamanya dikenang sebagai salah satu manajer terbaik the Reds, dan salah seorang penghuni terbesar Bootroom.
Bukanlah tugas yang mudah untuk mengikuti Paisley dan sederet trofi yang diraih selama masa jabatannya, tetapi bagi Fagan hal tersebut adalah sebuah tantangan. Ia berhasil memimpin the Reds menuju treble Liga Inggris, Piala Champions dan Piala Liga.
Di bawah Fagan, the Reds bermain dengan tenang, mengukur efisiensi, dengan tiap bagian berfungsi dalam keseimbangan dan keharmonisan. Ia meninggal dunia pada bulan Juli 2001 di usia 80 tahun, tetapi Joe akan selamanya dikenang sebagai salah satu manajer terbaik the Reds, dan salah seorang penghuni terbesar Bootroom.
Billy Liddell - Pemain Sayap LFC, 1939-1961
Bagi beberapa generasi Liverpudlian, Billy
Liddell akan tetap menjadi pemain terbesar yang pernah mengenakan
seragam merah. Karena pengaruhnya yang besar dan sebagai bentuk
penghormatan, suporter bahkan memberi julukan pada klub yang diambil
dari namanya: Liddellpool.
Pemain sayap ini naik ke permukaan di tengah masa-masa kelam pada dekade 1950an ketika the Kop bersedih akibat masuk ke zona degradasi dan gagal meraih piala apapun. Sepanjang era kemandulan yang hampir tidak tercatat di dalam sejarah Liverpool, pemain asal Skotlandia ini memastikan bahwa ribuan pendukung klub tetap memadati Anfield dan turut serta menjaga klub ini berada di atas permukaan sepakbola Inggris.
Pemain sayap ini naik ke permukaan di tengah masa-masa kelam pada dekade 1950an ketika the Kop bersedih akibat masuk ke zona degradasi dan gagal meraih piala apapun. Sepanjang era kemandulan yang hampir tidak tercatat di dalam sejarah Liverpool, pemain asal Skotlandia ini memastikan bahwa ribuan pendukung klub tetap memadati Anfield dan turut serta menjaga klub ini berada di atas permukaan sepakbola Inggris.
Ian St John - Striker LFC, 1961-1971
Ian St John bertanggung jawab atas
satu-satunya momen terbaik di era Shankly. Adalah golnya di masa extra
time yang membawa klub meraih Piala FA untuk pertama kalinya tahun 1965
dengan perayaan oleh ratusan ribu pendukung yang tumpah ruah memadati
jalan kota Liverpool.
Bahkan sampai hari ini, setelah malam-malam Eropa yang luar biasa di Roma dan Istanbul, kemenangan pertama di Wembley itu masih dikenang sebagai salah satu momen terbaik LFC. Kontribusi St John bagi the Reds tidaklah hanya sebuah gol, pemain asal Skotlandia ini adalah figur penting dalam transformasi Liverpool FC dari tim Divisi Dua menjadi salah satu klub yang sangat ditakuti di Eropa.
Bahkan sampai hari ini, setelah malam-malam Eropa yang luar biasa di Roma dan Istanbul, kemenangan pertama di Wembley itu masih dikenang sebagai salah satu momen terbaik LFC. Kontribusi St John bagi the Reds tidaklah hanya sebuah gol, pemain asal Skotlandia ini adalah figur penting dalam transformasi Liverpool FC dari tim Divisi Dua menjadi salah satu klub yang sangat ditakuti di Eropa.
Rafael Benitez - Manajer LFC, 2004 - 2010
Ia adalah Mesias dari Spanyol, seorang
jenius dalam taktik, yang mengembalikan reputasi Liverpool sebagai salah
satu klub terbesar di Eropa, dan memimpin tim menuju salah satu
kemenangan terbaik LFC di dalam sejarah. Tahun pertama Benitez di
Inggris berakhir seperti dongeng, tahun yang berakhir dengan
pencapaiannya di Eropa yang sudah pasti menempatkannya di tempat terbaik
dalam sejarah Anfield.
Jika dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan oleh Bill Shankly dalam membangun Liverpool menjadi sebuah kekuatan yang ditakuti, Benitez melakukan hal tersebut dalam waktu yang singkat, dan menghapus kekecewaan atas posisi lima di Liga Premier menjadi sebuah keberhasilan dengan meraih sukses di Eropa untuk kelima kalinya. Untuk merangkum legendanya hanya dalam enam menit mungkin akan mengecilkan seluruh kesuksesannya, tapi beberapa menit tersebutlah yang menjadi momen terpenting setelah paruh pertama di pertandingan hari Rabu, 25 Mei 2005. Yang pasti, suporter Liverpool tidak akan melupakan keajaiban di Istanbul.
Jika dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan oleh Bill Shankly dalam membangun Liverpool menjadi sebuah kekuatan yang ditakuti, Benitez melakukan hal tersebut dalam waktu yang singkat, dan menghapus kekecewaan atas posisi lima di Liga Premier menjadi sebuah keberhasilan dengan meraih sukses di Eropa untuk kelima kalinya. Untuk merangkum legendanya hanya dalam enam menit mungkin akan mengecilkan seluruh kesuksesannya, tapi beberapa menit tersebutlah yang menjadi momen terpenting setelah paruh pertama di pertandingan hari Rabu, 25 Mei 2005. Yang pasti, suporter Liverpool tidak akan melupakan keajaiban di Istanbul.
Roger Hunt - Striker LFC, 1958-1969
Sebagai satu-satunya pemain yang menerima
gelar kehormatan Ksatria dari Anfield, Roger Hunt adalah salah satu
figur yang paling populer yang pernah mengenakan seragam merah. Alasan
mengapa ia belum dianugerahi gelar 'Sir' oleh Ratu Inggris sangatlah
sulit dipahami, terutama ketika ia menjadi satu-satunya pemain the Reds
yang bertanding dan menjadi starter untuk Inggris ketika menjuarai Piala
Dunia tahun 1966.
Alasan mengapa Hunt akan selalu dikenang di Merseyside adalah karena
kesuksesannya di klub. Sebelum era Ian Rush, Hunt membukukan rekor
sebagai pencetak gol terbanyak, dan sampai hari ini tidak ada yang bisa
mencetak gol bagi Liverpool lebih banyak dari dirinya di Liga
sumber : http://indonesia.liverpoolfc.com/history/hall-of-fame
Langganan:
Postingan (Atom)




















