Sabtu, 14 Desember 2013

Daftar Rekor Penampilan


Most first team appearances Ian Callaghan - 857 Records
Most league appearances Ian Callaghan - 640  
Most FA Cup appearances Ian Callaghan - 79  
Most League Cup appearances  Ian Rush - 78 Records
Most European appearances Jamie Carragher - 150 Records
Most European Cup final
appearances
Phil Neal - 5  
Most goalkeeper appearances Ray Clemence - 665  
Most consecutive appearances Phil Neal - 417
(Oct 1976-Sept 1983)
Records
Most seasons ever-present Phil Neal - 9 (league)  
Longest serving player Elisha Scott - 21 years, 51 days Records
Oldest player Ted Doig - 41 years, 165 days
(v Newcastle, 1908)
Records
Youngest player Jerome Sinclair - 16 years, 6 days
(v West Brom, 2012)
 
Longest-serving manager by
time
Tom Watson - 18 years, 262 days  
Longest-serving manager by
matches

sumber : http://www.liverpoolfc.com/history/records/appearances



Bill Shankly - 783             

Ronnie Moran Sang Pengabdi Terlama Di Liverpool

Kopitesside-ID - Tepat 22 November 1952 silam, Ronnie Moran melakukan debutnya bersama Liverpool. Mereka menghadapi Derby County dalam partai tandang.
Moran sendiri merupakan pria yang mengabdi kepada Liverpool dengan waktu terlama, baik sebagai pemain, fisioterapis, caretaker serta manajer, yakni selama 46 tahun. Itu pun belum termasuk saat dia bergabung dengan The Reds sebagai pemain amatir pada 1949.
Sayang, debutnya sebagai bek tengah tidak berjalan mulus. Liverpool yang saat itu ditangani Don Welsh harus kalah dengan skor tipis 2-3.
Gol yang diciptakan Billy Liddell dan Jack Smith ternyata tak cukup untuk mencuri poin sempurna dari Derby County. Padahal, sang lawan berada di peringkat terbawah Divisi I. Berbeda dengan Liverpool yang berada di posisi ke-8.
Sejak debut tersebut, Moran hanya tampil 13 kali hingga musim selanjutnya, di mana Liverpool terdegradasi ke Divisi II.
Namun, itu tak membuat Moran pindah ke lain hati. Beberapa musim selanjutnya, dia justru menjabat sebagai kapten, termasuk saat manajer legendaris Bill Shankly pertama kali tiba di Anfield. Moran baru memutuskan untuk undur diri dari Liverpool pada 1998.

Foto Warna Tertua Di Liverpool FC

Kopitesside-ID - Situs Liverpool Echo belum lama ini memuat sebuah foto berwarna yang disebut sebagai foto warna tertua Liverpool.
Foto tersebut milik salah seorang pembaca Echo bernama Kevin Rathe. Menurutnya, ia menjepret foto tersebut pada musim panas 1960. Masa itu, sebagian besar kamera masih berteknologi hitam-putih, termasuk kamera milik kameramen media-media besar.

"Aku sedang berada di Melwood saat para jurnalis foto mengambil foto skuat Liverpool musim itu. Tapi mereka menggunakan kamera hitam-putih. Aku punya kamera berwarna dan bertanya pada Shanks (Bill Shankly, Red.) apakah boleh ikut mengambil foto," cerita Kevin pada Echo.

"Shankly menjawab, 'Tentu saja boleh, Nak. Bisa jadi foto yang kau hasilkan lebih baik dari yang lain.'" Kevin melanjutkan. Dan sepertinya memang begitu.

Foto skuat Liverpool dalam cetakan berwarna pertama kali dirilis secara resmi pada November 1969, yakni saat Liverpool berhadapan degan West Ham United. Ketika itu sesi foto skuat menggunakan teknologi technicolour, sementara sebagian besar koran masih berwarna hitam-putih.

So, foto hasil jepretan Kevin Rathe lebih tua 9 tahun dari foto resmi yang dirilis Liverpool jelang pertandingan versus West Ham tersebut. Dalam foto itu terlihat Liverpool masih memakai seragam lama, yakni atasan kaos merah berleher V-neck putih yang dipadu celana putih dengan strip merah. Oya, kaos kakinya juga masih berwarna putih.

Liverpool sendiri mengganti seragamnya menjadi merah-merah semua 4 tahun setelah Kevin mengambil foto.


Keterangan foto:
Eks pemain Everton Dave Hickson berada di baris kedua dari kanan (duduk), Johnny Morrissey ada di baris yang sama (nomor 2 dari kiri), tepat di sebelahnya adalah Ian Callaghan muda. Legenda Rodger Hunt ada di baris ketiga, berdiri di antara Bobby Campbell dan Gerry Byrne.

Kiper Tommy Lawrence berkaos coklat, lalu nomor 3 di sebelah kirinya adalah legenda Billy Liddell. Di baris paling belakang ada Jimmy Melia (menoleh ke samping), dan di sebelahnya ada Dick White dan Ronnie Moran

Anfield



Kopitesside-ID - Everton (tim Sepak Bola Kota Liverpool) memenuhi peraturan liga yang mengharuskan permain dilaksanakan di Stadion tertutup. Sebelumnya Everton bermain di Lapangan Terbuka Stanley Park. Kemudian Everton menyewa lapangan Anfield dengan harga murah. Pertandingan pertama everton di Anfield diadakan pada tanggal 28 September 1884 dimana Everton membantai Earstown 5-0.

Dalam tahun-tahun berikutnya pemilik Anfield , John Houlding membuat perbaikan fasilitas dengan memberikan tempat duduk . Saat itu kapasitasnya mampu menampung 8000 penonton.
Karena adanya perbaikan ini, John Houlding mengenakan kenaikan sewa kepada Everton sehingga terjadi perselisihan dengan Everton. Perselisihan ini kemudian menyebabkan Everton pindah ke Goodison Park (yang menjadi kandangnya sampai saat ini) dan meninggalkan Anfield kosong.

Terbentuknya Liverpool FC
Karena Anfield sudah tidak berpenghuni, maka John Houlding kemudian membentuk tim Sepak Bola pada Mei 1892 bernama Liverpool FC. Sejak itu Liverpool dan Everton menjadi musuh bebuyutan di Merseyside.

Laga perdana Liverpool dilaksanakan pada 1 September 1892, yaitu pertandingan persahabatan dengan Rotherham Town yang berakhir dengan score 7-1 untuk Liverpool.

Pertandingan kompetitif pertama yang digelar beberapa hari kemudian di Anfield oleh Liverpool FC adalah melawan Higer Walton yang hanya dihadiri 200 penonton dengan kemenangan 8-1 untuk Liverpool. Tetapi tanggal 10 September 1892, Anfield dihadiri oleh lebih dari 3000 orang penonton saat Liverpool menghempaskan Stocton yang saat itu adalah pemimpin klasemenn Liga Lancashire.


The Kop
Pada tahun 1906, teras penonton dibuat dan dinamai SPION KOP, mengambil nama sebuah bukit di Natal, Afrika Selatan, yang menjadi ajang pertempuran semasa Perang Boer Kedua. Dibukit ini lebih dari 300 Serdadu Resimen Lancashire Inggris tewas yang kebanyakan berasal dari Liverpool.

Pada puncaknya, The Kop pernah ditempati oleh 28,000 orang penonton. Sehinga tahun 1980-an, The Kop tidak dipasangkan tempat duduk. Penonton berdiri untuk menyaksikan dan mendukung pasukan mereka. The Kop menjadi masyur kerana pendukung fanatik Liverpool terkonsentrasi di The Kop. Bahkan menurut cerita mereka dapat menendang bola ke gawang lawan dari The Kop.

Tempat duduk baru dipasangkan setelah tejadinya Tragedi Hillsborough tahun 1989 dimana terdapat regulasi bahwa stadiun harus seluruhnya dilengkapi dengan tempat duduk.

Pemasangan kursi pada The Kop selesai pada tahun 1995. Kapasitas penonton di The Kop sekarang adalah 12,409, dengan 9 tempat yang diperuntukkan bagi penonton yang mempunya keterbatasan (mis. Cacat)

Anfield Road Stand 
Pendukung tim lawan di tempatkan di seksi ini. Awalnya, Anfield Road Stand hanya mempunyai satu baris tempat duduk berteres yang berwarna-warni. Seksi ini dibangun tahun 1998 sebagai dua bagian tempat duduk, dan kini dapat memuat 9,074 penonton dengan 2,654 orang penonton di bagian atas dan 6,391 penonton di bagian bawah serta 29 tempat untuk mereka yang mempunyai keterbatasan fisik.  







Main Stand 
Dibuat pada tahun 1895, Main Stand adalah tempat duduk utama di Anfield dan dapat menampung 3,000 orang penonton. Saat itu, struktur ini dibuat menggunakan kayu. Walaupun bagian ini disebut Main Stand, namun The Kop tetap menjadi seksi dimana pendukung fanatik Liverpool berkumpul. Main Stand adalah bagian pertama yang direnovasi di Anfield yaitu pada tahun 1973 dan dirasmikan oleh Duke of Kent. Setelah renovasi, Main Stand dapat menampung sejumlah 12,277 orang penonton, terdiri dari 9,597 orang penonton di tempat duduk utama, 2,409 orang di bahagian Paddock, 177 di podium Pengarah, 54 orang di podium utama dan ruang untuk 40 orang dengan keterbatasan fisik.  

This is Anfield 
Anfield mempunyai reputasi sebagai sebuah Stadion dan dikenali sebagai 'Fortress Anfield'. Semasa Bill Shankly menjadi pengurus, beliau ingin mewujudkan satu perang Psikologi kepada pasukan lawan. Ia menempatkan satu papan tanda "This Is Anfield" pada pintu masuk dari kamar ganti ke lapangan. Pemain-pemain Liverpool akan menyentuh tanda "This Is Anfield" ini saat akan masuk lapangan . Papan ini menjadi sesuatu yang menciutkan nyali lawan Liverpool saat bertanding di Anfield.

• Liverpool tidak pernah kalah di Anfield selama 85 petandingan yaitu antara Januari 1978 hingga Januari 1981. Dalam 85 laga tersebut, Liverpool menjaring 212 gol dan hanya kemasukan 35 gol.

• Liverpool tidak pernah kalah dalam Pertandingan Liga di Anfield dalam musim-musim 1893/94, 1970/71, 1976/77, 1978/79, 1979/80 and 1987/88. Liverpool menang semua pertandingan di Anfield dalam musim 1893/94.

Lain-Lain
• Lampu Sorot dipasang tahun 1957 dengan harga £15,000, pertama kali digunakan dalam pertandingan persahabatan merebut Floodlight Challenge Trophy pada 30 Oktober 1957 menentang Everton. Billy Liddell melesakkan 2 gol dan Liverpool menang 3-2

• Kehadiran penonton tertinggi pada pertandingan liga adalah 68,757 semasa Liverpool melawan Chelsea dalam musim 1949/50.

• 61,905 orang penonton hadir untuk menyaksikan pertandingan Piala F.A putaran ke-4 antara Liverpool dan Wolverhampton Wanderers (Wolves) pada 2 February, 1952.

• Pendapatan ticket paling banyak adalah £496,000 semasa Liverpool melawan Newcastle dalam musim 1995-96.

Liverpool XI Terbaik Sepanjang Masa

Kopitesside-ID - Memilih 11 pemain terbaik Liverpool sepanjang masa bukanlah perkara gampang. Dengan banyaknya pemain bagus yang kemampuannya mendekati pemain lainnya, tentu pemain yang terpilih haruslah mereka yang beda dari yang lain.
Apakah Sami Hyypia lebih baik daripada Jamie Carragher di posisi bek tengah? Apakah Steven Gerrard masuk dalam daftar? Di mana Billy Liddell, pemain yang tidak pernah memainkan sepakbola modern, layakkah dia bersanding dengan pemain hebat lainnya? Kalau Anda diminta memilih satu penjaga gawang berdasarkan raihan gelar yang diraihnya, akankah Anda memilih Pepe Reina atau Ray Clemence?


Ray Clemence – Penjaga Gawang
Tak ada yang meragukan kehebatan Bruce Grobbleaar dan Pepe Reina dalam mengawal gawang Liverpool. Namun kehebatan keduanya masih kalah dibanding Ray Clemence. Nilai plus Clemence lainnya adalah dia lebih banyak merasakan juara bersama The Reds.
Selama 14 tahun berkarier di Anfield dari 1967 hingga 1981, Clemence membantu timnya meraih lima trofi Charity Shields, lima Divisi Utama, satu Piala Liga, satu Piala FA, satu Liga Super Eropa, tiga Liga Champions, dua Piala UEFA dan satu Piala Super Eropa.
Raihan trofi Grobbleaar bersama Liverpool tak beda jauh dengan Clemence. Bedanya, dia hanya satu kali memenangi Liga Champions, sedangkan Clemence tiga. Sementara Reina belum sekalipun memenangi trofi kompetisi Eropa.
Dalam 665 penampilan untuk Liverpool, Clemence mencatat 335 clean sheets. Prestasi gemilangnya dalam mengawal gawang The Reds terukir di musim 1978/79, di mana dia hanya kebobolan 16 gol. Rekor langka itu baru bisa dipecahkan Chelsea di musim 2004/05 dengan hanya kebobolan 15 gol.
 
Phil Neal – Bek Kiri
Selama 11 tahun membela panji Liverpool, Phil Neal total telah mengumpulkan 11 medali juara. Raihan spektakuler itu hanya bisa dilewati sayap kiri Manchester United Ryan Giggs.
Dalam 445 penampilan untuk The Reds, Neal memenangi delapan trofi liga, lima Charity Shields, empat Piala Liga, empat Liga Champions, satu Piala UEFA, dan satu trofi Piala Super Eropa. Dia masih satu-satunya pemain Liverpool yang telah tampil di lima final kompetisi Eropa.
Meski berposisi sebagai bek, Neal cukup produktif dalam urusan mencetak gol. Dia total mencetak 41 gol buat dan salah satunya adalah gol penalti yang membawa Liverpool juara Liga Champions pada 19877. Neal memainkan 417 pertandingan secara beruntun dan rekor itu masih bertahan hingga kini.
 
Alan Hansen – Bek Tengah
Alan Hansen merupakan pemain penting bagi Liverpool dari 1977 hingga 1991. Selama 13 tahun membela The Reds, Hansen membantu klubnya meraih delapan trofi liga, tiga Liga Champions, dua Piala FA dan enam Charity Shields.
Bak batu karang, Hansen sangat kuat dalam bertahan. Kepiawaiannya mengawal lini pertahanan membuat frustrasi para penyerang lawan. Meski bernaluri defensif, dia masih bisa menyumbang delapan gol.
Bersama piala dan kemampuannya, Hansen masuk Liverpool XI sepanjang masa untuk kepemimpinannya yang menginspirasi. Dia dipercaya menjadi kapten pada 1986 ketika Liverpool menjadi klub ketiga yang mampu meraih gelar ganda, yaitu Liga Inggris dan Piala FA.
 
Jamie Carragher – Bek Tengah
Siapa yang tak mengakui kehebatan Jami Carragher dalam menghalau serangan lawan. Fans Liverpool pasti sepakat pemain yang memutuskan gantung sepatu di musim 2012/13 kemarin layak masuk  Liverpool XI terbaik sepanjang masa.
Carragher sudah memperkuat Liverpool semenjak 1990 saat tergabung dalam tim muda The Reds. Catatan titelnya hampir sama dengan Sami Hyypia. Lahir dan besar di Merseyside, Carragher memulai debutnya di tim utama Liverpool pada 1996. Dia merupakan pemain yang paling banyak membela Liverpool nomor dua setelah Ian Callaghan dengan membukukan 737 penampilan.
Selama 17 tahun membela The Reds, Carragher membantu klub meraih satu gelar Liga Champions edisi 2005, satu Piala FA dan satu Piala Liga pada 2001. Secara keseluruhan dia mengoleksi 10 medali dan memegang rekor sebagai pemain Britannia Raya yang paling banyak tampil di kompetisi Eropa.
 
Steve Nicol – Bek Kanan
Steve Nicol merupakan bagian dari kejayaan Liverpool di era 1980-an. Selama 13 tahun memperkuat The Reds, Nicol membantu klub meraih liga gelar Piala FA, empat Charity Shields dan Liga Champions edisi 1984. Dia total mencetak 46 gol dari 468 penampilan.
Nicol merupakan suksesor Phil Neal di sisi sayap kanan. Kemampuannya dalam bertahan membuat pertahanan Liverpool sulit ditembus dan menggaransi keamanan bagi penjaga gawang.
Pemain yang akrab disapa Chico itu tergolong pemain serba bisa. Dia bisa bermain di posisi bek kiri dengan sama baiknya. Kemampuannya itu pun membuatnya diganjar dengan piala individual Pemian Terbaik 1898 oleh Asosiasi Jurnalis Sepakbola Inggris [FWA].
 
Billy Liddel – Gelandang Kanan
Sangat sulit memang mengetahui kemampuan dari sosok Billy Liddel. Tak seperti pemain lainnya yang masuk dalam daftar, kita tidak bisa melihat aksi sang pemain. Namun begitu, dia masih merupakan salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah The Reds.
Dalam karier sepakbolanya yang dimulai saat Perang Dunia II meletus, Liddel menandatangani kontrak pertama bersama Liverpool pada 1938 dengan gaji £3 per pekan. Menyusul ditundanya liga akibat perang dunia, Liddel baru membuat debut resminya untuk Liverpool apda 1945.
Selama 17 tahun membela The Reds, Liddel total membukukan 534 penampilan dan mencetak 228 gol. Dia merupakan pencetak gol keempat terbanyak dalam sejarah Liverpool. Kendati sangat klinis di depan gawang, Liddel hanya memenangi satu trofi liga dan Piala FA.
Meski sulit membayangkan kemampuan Liddel di sepakboa modern, dia tetap pantas masuk daftar 11 skuat terbaik Liverpool sepanjang masa. Bentuk tubuhnya yang atletis, kecepatan, dan kemampuannya bermain di banyak posisi menjadi modal untuk tim mana pun di era mana pun.
 
Steven Gerrard – Gelandang Tengah
Sulit untuk tak memasukkan Steven Gerrard ke dalam daftar 11 skuat terbaik Liverpool sepanjang masa. Salah satu pesepakbola terbaik dan produk generasi emas, Stevie G telah dinominasikan beberapa kali untuk Ballon d’Or dan Pemain Terbaik FIFA. Dia finis ketiga untuk Ballon d’Or edisi 2005.
Untuk klub, Gerrard merupakan bagian dari tim fantastis Liverpool musim 200/01 yang memenangi Piala Liga dan Piala FA, runner-up liga dan Piala UEFA. Pada 2005, dia merupakan pemain kunci saat Liverpool menjuarai Liga Champions dengan mencetak 13 gol.
Secara total, Gerard telah mencetak 159 gol dari 629 penampilan dan dipercaya menjadi kapten tim. Permainanannya telah berubah dari yang dulunya agresif menjadi lebih kepada mengontrol permainan. Namun itu tak mengurangi pengaruhnya dalam permainan.
Masih mencari trofi Liga Primer Inggris pertamanya bersama Liverpool, Gerrard tak diragukan lagi merupakan ikon Liverpool dan lebih dari pantas untuk mendapatkan satu tempat di 11 skuat terbaik The Reds.
 
Grame Souness – Gelandang Tengah
Persis seperti Steven Gerrard, Graeme Souness merupakan bintang di lini tengah Liverpool dan sangat pantas masuk dalam daftar ini.
Selama memperkuat Liverpool dari 1977-1984, Sounesss total mencetak 55 gol, dan memenangi lima gelar liga, tiga Liga Champions dan empat Piala Liga.
Diplot sebagai pengganti Ian Callaghan, Souness langsung mencuri hati Liverpudlian di tahun pertamanya ketika gol sepakan volinya mengalahkan musuh bebuyutan Manchester United.
Lebih dikenal untuk distribusinya, Souness memiliki visi luar bisa dan sentuhan ajaib. Meski dia tak mampu berbuat banyak sebagai pelatih, Liverpudlian selalu mengenanya untuk permainannya yang enak ditonton di atas lapangan.
 
John Barnes – Gelandang Kiri
John Barnes merupakan salah satu sayap terbaik yang pernah dimiliki Liverpool. Piawai mengecoh lawan dan bertenaga kuda. Kinerjanya di atas pemain-pemain lainnya.
Pria kelahiran Jamaika ini total membukukan 407 penampilan dan mencetak 108 gol untuk The Reds. Musim terbaiknya terukir di 1989/90, di mana dia mampu melesakkan total 28 gol. Torehan gol fantastis bagi seorang pemain sayap.
Meski tak pernah mengenyam juara di kompetisi Eropa, Barnes mengakhiri 11 tahun kariernya di Anfield dengan catatan mentereng: dua gelar Liga Primer Inggris, dua Piala FA, tiga Charity Shield, dan satu Piala Liga.
 
Kenny Dalglish – Penyerang
Kenny Dalglish lebih dari layak untuk masuk dalam Liverpool XI sepanjang masa. Tak banyak striker yang memiliki kemampuan komplet seperti pemain berjuluk King Kenny ini.
Selama 13 tahun kariernya di Liverpool yang gilang-gemilang, Dalglish total melesakkan 172 gol dalam 515 penampilan. Torehan yang cukup impresif, yang menjadikannya masuk enam besar daftar pencetak gol terbanyak The Reds sepanjang masa.
Trofi-trofi mayor yang pernah dimenangi pemain asal Skotlandia ini antara lain, enam gelar Liga Primer Inggris, empat Piala Liga, tiga Liga Champions dan lima Charity Shields. Kecerdasan pengetahuannya pada permainan membuatnya meraih sukses ketika dipercaya menjadi manajer The Reds.
 
Ian Rush – Penyerang
Tak ada yang meragukan kemampuan Robbie Fowler di depan gawang lawan. Pun dengan Michael Owen. Tapi siap yang bisa membantah kehebatan Ian Rush?
Simak saja torehan golnya. Pemain asal Wales itu total melesakkan 346 gol yang diciptakannya dalam 660 penampilan. Koleksi golnya itu menjadikannya pencetak gol terbanyak Liverpool sepanjang masa. Salah satu anggota generasi emas Liverpool di era 1980-an ini meraih lima trofi Divisi Satu, tiga Piala FA, lima Piala Liga, lima Charity Shields dan dua trofi bergengsi Liga Champions.
Yang membuatnya beda dengan Fowler tak hanya dari jumlah gol yang dia lesakkan tapi nalurinya mencetak gol. Hanya sedikit pemain yang lebih fokus membuat dampak dan berhasil dibanding Rush, yang membuatnya berada di depan striker The Reds lainnya.
Melihat Rush berduet dengan King Kenny sangat menakutkan, dan itu mungkin masih akan demikian jika keduanya bermain bareng saat ini.

Rabu, 11 Desember 2013

William "Bill" Shankly

Bill Shankly
Nama Lengkap : William Shankly
Lahir : Glenbuck (Skotlandia), 2 September 1913
Meninggal : September 1981
Karier pemain : Carlisle United (1932-1933), Perston North End (1933-1949)
Karier pelatih : Carlisle United (1949-1951), Grimsby Town (1951-1953), Workington (1954-1955), Huddersfield Town (1955-59), Liverpool (1959-1974)
Prestasi : 3 Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA

“A football team is like a piano. You need eight men to carry it and three who can play the damn thing.”
"football is beyond life and death"
“Some people believe football is a matter of life and death, I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that.”
-Shankly

Kopitesside-id - Banyak orang yang mengira sepak bola adalah persoalan hidup dan mati. Saya sungguh kecewa. Sepak bola jauh lebih besar dari sekadar urusan hidup dan mati.”

Ada perasaan aneh saat mendengar statemen tersebut. Logika normal seolah berontak. Bagaimana mungkin persoalan hidup dan mati menjadi seekor "semut" jika dibandingkan dengan sepak bola. Jangan pernah mengkritisi statemen tersebut kepada seorang Bill Shankly. Wajahnya bakal berkerut, lalu dengan meledak-ledak berargumentasi. Bagi Shankly, keyakinan itu sudah terbatinkan. Football is everything. Sebanding dengan agama. Baginya, sepak bola harus disikapi secara total dan maksimal.


Penikmat sepak bola yang relatif baru mungkin jarang mendengar Bill Shankly. Telinga akan lebih akrab mendengar nama Sir Alex Fergusson atau juga Arsene Wenger. Tanpa bermaksud menyepelekan Fergie atau Wenger, berdasarkan poling TEAMtalk dan World Soccer 2001, Shankly merupakan pelatih paling legendaris di Britania Raya. Mengungguli 2 nama pelatih besar tersebut.

Pencinta Liverpool memujanya seperti malaikat. Dia dianggap sebagai pelatih terbesar. Selama membesut "The Reds" dari 1959 hingga 1974, Shankly telah menghadiahi pendukung Liverpool 3 gelar Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA.


Harap dicatat, bukan raihan gelar itu yang membuat pendukung Liverpool rela mendirikan monumen untuk mengenang Shankly. Pria yang meninggal pada 1981 tersebut dianggap sebagai peletak fondasi kebesaran Liverpool.



Saat kali pertama ditunjuk menjadi pelatih Liverpool oleh TV Williams—Presiden Liverpool kala itu—pada 1959, Shankly punya PR besar. Selain terpuruk di Divisi II, kondisi Liverpool sangat parah. Lapangan becek, tribun penonton reot, dan kamar ganti pemain amburadul. Reformasi total pun dilaksanakan Shankly. Shankly tak hanya berhasil menuntaskan problem internal. Dia juga sukses memberikan sederet pundi-pundi gelar, baik di kancah lokal atau Eropa, sekaligus memberikan dasar-dasar yang kuat bagi para penerus. Keberhasilan Bob Paisley pada era 1980-an, juga berkat jasanya.

KAMPIUN BRITANIA RAYA

Bill Shankly lahir pada 1913 di daerah pertambangan Glenbuck, Skotlandia. Suatu kawasan yang sangat menggemari sepak bola, selain politik tentunya. Sepak bola merupakan alasan untuk hidup. Pada periode 1890-1940, daerah Glenbuck telah menelurkan lebih dari 50 pebola profesional.


Shankly tumbuh seperti rekan-rekan sebayanya. Bekerja sebagai tukang tambang 6 hari seminggu. Hanya menyisakan Sabtu malam untuk bersosialisasi dan hari Minggu untuk bermain bola. Sangat membosankan.

Sepak bola sudah menjadi jalan hidup bagi Shankly untuk meretas kebebasan. Pada 1932, dia bergabung dengan Carlisle United dan beberapa tahun kemudian pindah ke Preston North End Club. Shankly tercatat pernah memperkuat timnas Skotlandia sebanyak 7 kali. Saat menginjak umur 33 tahun, pria berkarakter keras ini memutuskan gantung sepatu.


Karier kepelatihannya diretas dengan membesut Carlisle, kemudian berlanjut ke klub yang lebih besar seperti Grimbsy, Workington, dan Huddersfield. Fase paling penting pada 1959. Dia diberi kepercayaan oleh Presiden Liverpool, TV Williams, untuk membenahi "The Reds". Tugas yang sangat berat. Kondisi Liverpool saat itu compang-camping dan terpuruk di Divisi II.


Revolusi dijalankan. Untuk pola permainan, Shankly memperkenalkan ilmunya yang kemudian melegenda, the five-a-side games atau passing game. Menurut Shankly, sebenarnya sepak bola itu sederhana, yakni seni mengumpan dan bergerak. Yang diperlukan adalah kecerdasan berpikir untuk mengumpan dan mencari ruang untuk menerima umpan. Intinya, Shankly menekankan para pemainnya untuk menggunakan otak dalam bermain.


Pembenahan kedua, Shankly meminta agar tempat latihan di Melwood dipugar. Shankly punya cara paten untuk membentuk kesolidan tim. Dia mewajibkan semua pemain berkumpul di Anfield untuk kemudian berbarengan naik bus ke Melwood. Seusai latihan, para pemain kembali diwajibkan untuk balik dulu ke Anfield bersama-sama.


Shankly juga menanamkan filosofi penting untuk para pemainnya. "If you are first you are first. If you are second, you are nothing." Maksudnya, tak ada kamus untuk kalah. "The Reds" harus selalu yang nomor satu. Pelatuk yang ia canangkan saat itu, menggusur dominasi rival sekota (Everton) dan menjadikan "The Reds" sebagai klub nomor satu di Liverpool.


Hasilnya ciamik. Dalam empat musim, "The Reds" dia angkat kembali promosi ke Divisi Utama. Tak tanggung-tanggung, begitu naik ke Divisi Utama musim 1963-64, tahta jawara langsung direbut. Setahun berikutnya, untuk pertama kalinya Liverpool merengkuh Piala FA. Level Eropa juga dikangkangi dengan merebut Piala UEFA 1973.



Pada masa besutannya, Liverpool memasuki era gilang-gemilang. Tahun 1974, saat umurnya menginjak 61 tahun, Shankly memutuskan pensiun. Bukan terlalu dini. Dia sudah membawa banyak kebesaran buat Liverpool. Sukses yang lahir berkat filosofinya: sepak bola bukan sekadar hidup dan mati.







 
“If you are first you are first. If you are second you are nothing.”
“If you can’t support us when we lose or draw , don’t support us when we win”
YNWA SHANKS
Thanks...

Selasa, 10 Desember 2013

Hall Of Fame

Kopitesside-id - Liverpool FC tidak akan menjadi klub yang ada sekarang ini tanpa komitmen dan semangat dari tiap pemain yang pernah mengenakan seragam merah legendaris dan tiap manajer yang pernah menempati Anfield dug-out yang terkenal.
Tetapi, walaupun kesuksesan Liverpool selalu didasari oleh prinsip kerjasama tim, ada beberapa individu yang akan selalu dikenang dan dikenal atas kontribusinya untuk Liverpool FC.
Berikut ini adalah 15 anggota pertama dari International Hall of Fame LFC...

Ian Rush - Striker LFC, 1980-1996

Hanya satu kata yang dapat menjabarkan karir Ian Rush di Liverpool: Gol. Pemain asal Wales ini mencetak 346 gol dari 660 penampilan, sebuah rekor klub yang sangat sulit dilampaui.
Tidak ada yang dapat mengguncang the Kop lebih daripada sebuah gol, dan Rush adalah orang yang dapat menyebabkan 'kerusakan' pada tribun legendaris tersebut. Terlebih lagi, instingnya dalam mencetak gol memainkan peranan penting bagi the Reds dalam mendominasi permainan sepanjang dekade 1980an. Di Anfield, ia sangat dicintai. Di Eropa, ia menjadi sosok yang sangat ditakuti dan disegani.

Bob Paisley - Manajer LFC, 1974-1983

20 trofi dalam 9 musim - tidak buruk bagi seseorang yang bahkan tidak ingin untuk menjadi manajer Liverpool FC.
Mengikuti jejak legendaris Bill Shankly adalah tugas yang mustahil bagi banyak orang, tetapi Paisley mampu menunjukkan taringnya. Pencapaiannya dalam waktu yang sangat singkat sebagai manajer - termasuk memenangkan 3 Piala Champions - tidak dapat diremehkan, atau dilampaui. Tidak diragukan lagi, di dunia sepakbola ia dikenal sebagai sang Manager of the Millenium.

Ian Callaghan - Pemain Tengah LFC, 1960-1978

Tidak ada seorangpun yang pernah bermain untuk Liverpool melebihi Ian Callaghan. Kemungkinannya: tidak akan pernah ada. Cally mengenakan lambang Liver bird di dadanya sebanyak 857 kali selama 18 tahun karirnya di klub ini. Tidak ada panutan yang lebih baik bagi para pemain baru dari seorang pemain tengah yang tindakannya melambangkan segala sesuatu yang baik dari sepakbola itu sendiri.
Pria sejati kelahiran Toxteth ini adalah satu-satunya pemain yang bertahan sejak Liverpool masih berada di Divisi Dua, hingga akhirnya menapaki puncak sepakbola Eropa. Sepanjang perjalanannya, ia mendapatkan tiap penghargaan yang ada, termasuk penghargaan tertinggi dari rekan-rekannya dan dari para fans, serta ia hanya sekali mendapatkan kartu peringatan.

Kenny Dalglish - Pemain dan Manajer LFC, 1977-1991 and 2011-2012

Hanya akan ada satu Raja dan tokoh yang berhak duduk di singgasana Anfield, dan orang tersebut adalah Kenneth Mathieson Dalglish. Dengan tangan dinginnya dan pengetahuan sepakbolanya, King Kenny dihormati oleh Liverpudlian sebagai pemain terbesar yang pernah bermain untuk Liverpool.
Sebelum ia bergabung di bulan Agustus 1977, tim asuhan Bob Paisley terlihat sangat kesulitan saat meraih Piala Champions pertamanya. Tetapi dengan adanya sosok influensial seperti Dalgish di dalam tim, 13 tahun berikutnya menjadi tahun-tahun yang terbaik bagi Liverpool FC. Sebagai pemain yang bertalenta, apa yang ia capai sebagai manajer Liverpool menegaskan status legendarisnya dengan memberi dua gelar di tahun 1986, diikuti dengan titel Liga Inggris tahun 1988 dan 1990, ditambah lagi dengan Piala FA dari all-Merseyside final di tahun 1989.

Graeme Souness - Pemain Tengah LFC, 1978-1984

Seorang pesepakbola dengan kepiawaian pemain biola - itulah bagaimana seseorang mendeskripsikan Graeme Souness. Ia adalah seorang pemain tengah yang memiliki keberanian luar biasa dengan sentuhan yang sangat halus. Souness turut serta membawa 15 trofi ke Anfield selama enam tahun karirnya di klub, dan menjadi salah satu dari empat kapten the Reds yang mengangkat Piala Champions.
Di puncak karirnya, sang 'Emperor of Anfield' ini dipandang sebagai seorang pemain tengah serba bisa, dan penghargaan ini tidak berubah meski ia tidak berhasil sebagai manajer.

Albert Stubbins - Striker LFC, 1946-1953

Penyerang tengah Albert Stubbins adalah salah satu pemain Liverpool yang sangat terkenal setelah Perang Dunia Kedua. Ia telah menjadi pemain yang subur dan berpengalaman ketika bergabung dari Newcastle tahun 1946, ia mencetak 232 gol di 190 pertandingannya semasa era Perang Dunia. Gol pertamanya ia ciptakan di kandang Bolton dan mengakhiri musim sebagai Juara Liga Championship serta menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 24 gol.
Secara keseluruhan, ia tampil sebanyak 178 kali bersama tim utama dan mengakhiri karirnya di Merseyside dengan mengemas total 83 gol.

Robbie Fowler - Striker LFC, 1992-2001 and 2006-2007

Ditahbiskan sebagai 'God' oleh the Kop, Robbie Fowler adalah salah satu pemain yang sangat dicintai dalam sejarah Anfield. Sebagai Evertonian di masa kecilnya, ia mencetak debutnya di pertandingan Piala Liga melawan Fulham, sebelum kemudian penonton dan pundit dibuat kagum dengan 5 golnya sekaligus pada leg kedua di Anfield. Ditambah dengan hat-trick tercepat dalam sejarah Liga Premier ketika melawan Arsenal, ia berubah dari seorang pemain yang menjanjikan - menjadi seorang superstar di musim pertamanya.
Kepopuleran Fowler di antara fans menyamai Kenny Dalglish, dan dirinya menjadi sosok yang penting bagi Liverpool dalam memenangkan Treble di tahun 2001.

Phil Neal - Pemain Belakang LFC, 1974-1985

Phil Neal adalah pemain dengan gelar juara terbanyak dalam sejarah Liverpool. Pada kenyataannya, tidak ada seorang pemain Inggris yang dapat meraih medali sebanyak dirinya. Bek tangguh ini turut serta membawa 22 piala ke dalam ruang trofi Anfield serta menjadi satu-satunya pemain Liverpool yang membawa timnya memenangkan empat Piala Champions.
Julukan 'Mr Consistency' melekat erat pada dirinya selama ia bermain untuk Liverpool. Ditarik dari tim Divisi Empat dengan nilai kontrak sebesar £66,000 di bulan Oktober 1974, mantan pemain Northampton Town ini adalah pilihan pertama Bob Paisley dan terbukti menjadi yang paling berkesan. Ia meninggalkan Anfield dengan setumpuk medali, termasuk 4 Piala Champions, 8 titel Liga Inggris, 4 Piala Liga dan satu Piala UEFA.

Bill Shankly - Manajer LFC, 1959-1974

Bill Shankly adalah figur yang terpopuler dalam sejarah Liverpool FC. Sebagai seseorang yang kharismatik, ia menyadari mimpinya dalam mengubah klub ini menjadi kekuatan yang paling dominan di persepakbolaan Inggris. Semangatnya terpancar dari awal sejarah LFC berdiri.
Namanya bersinonim dengan pengertian 'the Liverpool way', warisannya telah menguasai Eropa sebanyak lima kali dan memonopoli kompetisi domestik selama lebih dari dua dekade. Sampai hari ini, semangat dari seseorang yang menjuarai Piala FA pertama bagi Liverpool di tahun 1965 tetap jaya di Anfield, dimana patungnya berdiri di depan the Kop yang ia cintai dan Shankly Gates dengan menyandang kata-kata yang abadi, 'You'll Never Walk Alone'.

John Barnes - Pemain Tengah LFC, 1987-1997

Tidak ada pemandangan yang lebih indah di dalam sepakbola seperti kemegahan John Barnes ketika menyusuri sisi lapangan. Datang ke Liverpool bersama dengan penyerang yaitu John Aldridge dan Peter Beardsley, Barnes adalah gabungan sempurna dari keahlian dan kekuatan. Kaki kirinya telah menjatuhkan banyak tim, sepanjang Liverpool membawa sepakbola Inggris ke tingkatan yang lebih tinggi dengan membukukan rekor 29 pertandingan tanpa kekalahan, dan mengamankan titel Liga ke-17.
Tidak mengejutkan jika ia meraih gelar Pemain Terbaik di tahun 1987-88. Kualitas yang ia miliki telah membawanya ke bagian sejarah Liverpool yang terbaik - seperti yang pernah dikatakan oleh Bob Paisley, seragam No.7 akan selalu melekat dengan Kenny Dalglish, demikian juga seragam No.10 akan menjadi milik Barnes selamanya

Joe Fagan - Manajer LFC, 1983-1985

Sebagai pekerja yang efektif dan pendiam di belakang layar, naiknya Joe Fagan ke singgasana Anfield adalah sesuatu yang logis - setelah ia menempati posisi di bawah Bob Paisley ketika Bill Shankly mundur tahun 1974.
Bukanlah tugas yang mudah untuk mengikuti Paisley dan sederet trofi yang diraih selama masa jabatannya, tetapi bagi Fagan hal tersebut adalah sebuah tantangan. Ia berhasil memimpin the Reds menuju treble Liga Inggris, Piala Champions dan Piala Liga.
Di bawah Fagan, the Reds bermain dengan tenang, mengukur efisiensi, dengan tiap bagian berfungsi dalam keseimbangan dan keharmonisan. Ia meninggal dunia pada bulan Juli 2001 di usia 80 tahun, tetapi Joe akan selamanya dikenang sebagai salah satu manajer terbaik the Reds, dan salah seorang penghuni terbesar Bootroom.

Billy Liddell - Pemain Sayap LFC, 1939-1961

Bagi beberapa generasi Liverpudlian, Billy Liddell akan tetap menjadi pemain terbesar yang pernah mengenakan seragam merah. Karena pengaruhnya yang besar dan sebagai bentuk penghormatan, suporter bahkan memberi julukan pada klub yang diambil dari namanya: Liddellpool.
Pemain sayap ini naik ke permukaan di tengah masa-masa kelam pada dekade 1950an ketika the Kop bersedih akibat masuk ke zona degradasi dan gagal meraih piala apapun. Sepanjang era kemandulan yang hampir tidak tercatat di dalam sejarah Liverpool, pemain asal Skotlandia ini memastikan bahwa ribuan pendukung klub tetap memadati Anfield dan turut serta menjaga klub ini berada di atas permukaan sepakbola Inggris.

Ian St John - Striker LFC, 1961-1971

Ian St John bertanggung jawab atas satu-satunya momen terbaik di era Shankly. Adalah golnya di masa extra time yang membawa klub meraih Piala FA untuk pertama kalinya tahun 1965 dengan perayaan oleh ratusan ribu pendukung yang tumpah ruah memadati jalan kota Liverpool.
Bahkan sampai hari ini, setelah malam-malam Eropa yang luar biasa di Roma dan Istanbul, kemenangan pertama di Wembley itu masih dikenang sebagai salah satu momen terbaik LFC. Kontribusi St John bagi the Reds tidaklah hanya sebuah gol, pemain asal Skotlandia ini adalah figur penting dalam transformasi Liverpool FC dari tim Divisi Dua menjadi salah satu klub yang sangat ditakuti di Eropa.

Rafael Benitez - Manajer LFC, 2004 - 2010

Ia adalah Mesias dari Spanyol, seorang jenius dalam taktik, yang mengembalikan reputasi Liverpool sebagai salah satu klub terbesar di Eropa, dan memimpin tim menuju salah satu kemenangan terbaik LFC di dalam sejarah. Tahun pertama Benitez di Inggris berakhir seperti dongeng, tahun yang berakhir dengan pencapaiannya di Eropa yang sudah pasti menempatkannya di tempat terbaik dalam sejarah Anfield.
Jika dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan oleh Bill Shankly dalam membangun Liverpool menjadi sebuah kekuatan yang ditakuti, Benitez melakukan hal tersebut dalam waktu yang singkat, dan menghapus kekecewaan atas posisi lima di Liga Premier menjadi sebuah keberhasilan dengan meraih sukses di Eropa untuk kelima kalinya. Untuk merangkum legendanya hanya dalam enam menit mungkin akan mengecilkan seluruh kesuksesannya, tapi beberapa menit tersebutlah yang menjadi momen terpenting setelah paruh pertama di pertandingan hari Rabu, 25 Mei 2005. Yang pasti, suporter Liverpool tidak akan melupakan keajaiban di Istanbul.

Roger Hunt - Striker LFC, 1958-1969

Sebagai satu-satunya pemain yang menerima gelar kehormatan Ksatria dari Anfield, Roger Hunt adalah salah satu figur yang paling populer yang pernah mengenakan seragam merah. Alasan mengapa ia belum dianugerahi gelar 'Sir' oleh Ratu Inggris sangatlah sulit dipahami, terutama ketika ia menjadi satu-satunya pemain the Reds yang bertanding dan menjadi starter untuk Inggris ketika menjuarai Piala Dunia tahun 1966.
Alasan mengapa Hunt akan selalu dikenang di Merseyside adalah karena kesuksesannya di klub. Sebelum era Ian Rush, Hunt membukukan rekor sebagai pencetak gol terbanyak, dan sampai hari ini tidak ada yang bisa mencetak gol bagi Liverpool lebih banyak dari dirinya di Liga
sumber : http://indonesia.liverpoolfc.com/history/hall-of-fame